Rabu, 16 Desember 2009

Koin Untuk Prita Tembus RpJawa Pos Selasa, 15 Desember 2009 500 Juta

Koin untuk Prita Tembus Rp 500 juta
Daerah Belum Masuk, Bank Tak Mau Terima

JAKARTA - Pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari, yang diputus bersalah oleh Pengadilan Negeri (PN) Tangerang dan Pengadilan Tinggi (PT) Banten dalam kasus perdata pencemaran nama baik RS Omni Internasional, secara resmi ditutup pukul 21.00 tadi malam (14/12).

Penghitungan koin kemarin dimulai pukul 09.00. Hingga pukul 21.27, para relawan menghitung jumlah koin mencapai Rp 416.001.500. Tetapi, aktivitas penghitungan belum selesai.

Kalau dijumlah dengan sumbangan sebelumnya, dana sumbangan untuk Prita mencapai lebih dari setengah miliar rupiah (Rp 500 juta).

Sebelumnya, mantan Men­teri Perindustrian (Menperind) Fah­mi Idris menyumbang separo dari kerugian material dan immaterial yang ditetapkan PT Banten, yakni Rp 102 juta. Lantas, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI menyumbang Rp 50 juta. Jadi, total dana sumbangan untuk Prita sudah mencapai Rp 568 juta.

Jumlah sumbangan akan terus bertambah. Sebab, penghitungan beberapa karung koin belum selesai. Begitu pula sumbangan koin dari daerah-daerah. ''Belum semua sampai kepada kami,'' kata Yusro Muhammad Santoso, salah seorang relawan Koin untuk Prita, di markas penghitungan di Jalan Langsat 1/3a, Kramat Pela, Jakarta Selatan.

Kamis lusa (17/12) Yusro berharap agar penghitungan seluruh karung rampung. Lalu, uang itu akan diserahkan secara simbolis pada 20 Desember bertepatan dengan Hari Kesetiakawanan Sosial. Rencananya, akan ada konser akbar yang diselenggarakan sebuah majalah musik. ''Saat itu, secara simbolis uang koin akan diserahkan kepada Ibu Prita,'' tutur Yusro.

Namun, para relawan malah menghadapi kesulitan baru. Me­reka sulit mencari bank yang mau menerima uang receh itu. Fa­­silitator relawan Didi Nugrahadi me­ngatakan, uang itu akan di­se­rahkan kepada Prita dalam bentuk rekening. Sebab, RS Om­ni men­cabut gugatannya.

Namun, hingga tadi malam, belum ada bank yang mau menerima. Didi sudah mendekati tiga bank besar nasional. Tetapi, me­reka kompak menolak. ''Tidak perlu saya sebut nama banknya. Mereka beralasan tidak mau dianggap berpihak pada gerakan sosial tertentu,'' jelasnya.

Pengacara RS Omni Internasional kemarin (14/12) secara resmi mengajukan pencabutan gugatan perdata atas Prita Mulyasari. Itu berarti Prita dipastikan tidak perlu lagi membayar denda Rp 204 juta sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi (PT) Banten. Syaratnya, Prita mau menyepakati akta perdamaian. ''Pencabutan gugatan perdata ini realisasi keinginan rumah sakit untuk berdamai,'' kata Risna Situmorang, pengacara RS Omni. (aga/kim/dwi)

Minggu, 13 Desember 2009

SYARIF ABDUL HAMID ALKADRIE SANG PERANCANG LAMBANG NEGARA INDONESIA

Perancang lambang negara Indonesia berbentuk Rajawali-Garuda Pancasila yang kemudian disingkat dengan nama Garuda Pancasila ternyata bernama Syarif Abdul Hamid Alkadrie yang punya gelar Sultan Hamid II putra sulung dari Sultan Syarif Muhammad Alkadrie dari Kesultanan Pontianak di Kalimantan Barat. Syarif Abdul Hamid Alkadrie lahir di Pontianak pada tanggal 12 Juli 1913 merupakan darah campuran Indonesia – Arab.

Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh pendidikan ELS (Europese Legere School) atau lebih dikenal dengan Sekolah Belanda yang ditujukan untuk mengembangkan dan mendidik serta memperkuat kesadaran nasional dikalangan keturunan Belanda dan kebanyakan Indo-Belanda. Dalam perkembangan selanjutnya sekolah dasar ini juga anak Indonesia dan Tionghoa walaupun jumlahnya kecil. Dalam sekolah ini diajarkan ilmu alam, dasar-dasar bahasa Perancis, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman, sejarah umum, matematika, pertanian, menggambar, pendidikan jasmani, dan pekerjaan tangan. Penggunaan bahasa asing dalam sekolah ini memang dimaksudkan agar lulusannya bisa memasuki sekolah menengah yang bernama HBS (Hogere Burger School) yang memang diperuntukkan bagi murid-murid Belanda dan golongan baik yang sanggup menyekolahkan anaknya ke ELS (Europese Legere School) kelas satu. Sedangkan Syarif Abdul Hamid Alkadrie menempuh ELS (Europese Legere School) di Sukabumi, Pontinak, Yogyakarta, dan Bandung.

Setelah menamatkan pendidikan dasar dilanjutkan ke sekolah menengah HBS (Hogere Burger School) di kota Bandung selama satu tahun, dan sekolah THS di Bandung walau tidak sampai tamat. Kemudian melanjutkan ke sekolah militer bernama KMA di kota Breda Negeri Belanda hingga tamat dan meraih pangkat letnan pada Kesatuan Tentara Hindia Belanda (Koeningklik Netherland Indie Leger).

Pada saat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di tahun 1942 Syarif Abdul Hamid Alkadrie ditahan Jepang 10 Maret 1942 akhirnya dibebaskan kembali ketika Jepang menyerah kepada Sekutu selanjutnya mendapat kenaikan pangkat kolonel. Tidak lama setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan ternyata Syarif Abdul Hamid Alkadrie diangkat menjadi Sultan Pontianak pada tanggal 29 Oktober 1945 karena merupakan putra sulung pewaris Kesultanan Pontianak untuk menggantikan ayahandanya kemudian diberi gelar Sultan Hamid II.

Ketika Belanda menyerahkan kedaulatannya kepada pemerintah Republik Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar pada 23 Agustus sampai dengan 2 September 1949 yang diantara isi penyerahan itu Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat maka Syarif Abdul Hamid Alkadrie diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menteri Negara Zonder Portopolio. Sehubungan dengan jabatan selaku menteri negara tersebut ditugaskan Presiden Soekarno untuk merencanakan, merancang, dan merumuskan gambar lambang negara. Presiden Soekarno berpesan hendaknya lambang negara mencerminkan pandangan hidup bangsa Indonesia, dasar negara Indonesia, dengan merangkum Pancasila divisualisasikan dalam lambang negara.

Pada 10 Januari 1950 Presiden Soekarno membentuk panitia teknis dengan nama Panitia Lencana Negara dibawah koordinator Menteri Negara Zonder Portopolio Syarif Abdul Hamid Alkadrie (Sultan Hamid II) dengan susunan panitia teknis sebagai berikut yang diketuai oleh Mohammad Yamin dengan didampingi anggota Ki Hajar Dewantara, M.A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabeu Purbatjaraka. Tugasnya menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih dan diajukan kepada pemerintah.

Panitia Lencana Negara berhasil memilih dua rancangan terbaik, yaitu karya Sultan Hamid II dan karya Mohammad Yamin. Dalam proses selanjutnya yang diterima pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS) adalah rancangan Sultan Hamid II. Untuk itulah kemudian Syarif Abdul Hamid Alkadrie (Sultan Hamid II) kembali mengajukan rancangan gambar lambang negara yang telah disempurnakan berdasarkan aspirasi yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali-Garuda Pancasila yang kemudian disingkat dengan nama Garuda Pancasila.

Presiden Soekarno memperkenalkan lambang negara itu untuk pertama kalinya kepada khalayak umum di Hotel Des Indis Jakarta pada 15 Pebruari 1950. Penyempurnaan kembali lambang negara yang diumumkan itu terus diupayakan, kepala burung Rajawali Garuda Pancasila yang awalnya gundul menjadi berjambul, dan bentuk cakar kaki yang mencengkeram pita dari semula menghadap ke belakang menjadi menghadap ke depan. Kemudian Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara, yaitu dengan menambah skala ukuran dan tata warna gambar lambang negara. Rancangan terakhir ini kemudian menjadi lembaran resmi Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 berdasarkan pasal 2 jo pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951

Tokoh dan juga seorang sultan yang berjasa terhadap bangsa Indonesia ini meninggal dunia pada 30 Maret 1978 dimakamkan di pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang Kalimantan Barat.

Oleh Suwandi, S.Pd.,M.Pd
* Aktivis Masyarakat Sejarawan Indonesia Komisariat Surabaya tinggal di Gresik, Indonesia

Jumat, 11 Desember 2009

CERITA CINTA

Hari itu ...
resahmu ku himpun
hingga merimbun
rembulan melenggang genit
bentuk bayangan manis pada tirai tipis
senyum manis tangan kau gamit
nuju peraduan penuh kembang
dalam dekapmu ...
nyanyian rindu bertalu dalam degupmu
rasanya aku ingin mencubit
bulan tinggal seiris mengintip
saat kau urai gelungku
terbaca makna dalam tatapmu
hasrat melukis rahimku
tetes peluh, bilur biru
menyatu beku di gunung itu
nafasmu seharum gaharu
kala kau reguk madu cerukku
Bulan tersenyum dan berlalu
dihantar aroma kembang
kita terbang ke awan

Hari Jum’at, 11 Desember 2009 Jam 14:20
Catatan Oleh : Frentianik Widodo

Kamis, 10 Desember 2009

KOIN DAN KEADILAN

Kebenaran laksana bintang yang samar di balik malam
Memanggil jiwa, membuka pintu wajah penganiayaan
Lalu mengajarkan kepadamu tentang makna kedukaan yang dalam
Menyingkap tabirnya bersama lautan kebaikan dan gelombang kebajikan
Kebenaran itu menuntun jiwamu membuka misterinya sendiri

Atas namanya kau galang sejuta koin recehan
Lalu kau hempaskan pada wajah keadilan yang bernilai milyaran
Karena hukum telah memalingkan jiwanya pada wajah perbudakan
Dan dakwaan telah merajai kekuasaan seolah tak tertaklukkan
Namun kebenaran mendendangkan nyanyian indahnya
dan menyangga keagungan harapan pada kehidupan yang pualam

Duhai jiwamu yang hampa oleh rasa keadilan
Telah kau taburkan benih-benih kebohongan dalam jiwa hukummu
Dan kau semaikan aturan-aturan semu di ladang kuasamu
Menghujamkan keputusan sharkasme di ujung palu dakwaanmu
Kulihat kebijaksanaanmu menggoreskan kepedihan dan menebarkan aroma penindasan
Mengalirkan air mata darah ketidakpuasan dan menorehkan luka pemberontakan

Lihatlah di sudut-sudut beranda rumah dan di tepi jalanan
Suara-suara hati yang rindu kebenaran telah bergema memenuhi semesta jiwa
Memulai iring-iringan cinta menuju taman istana singgasana keadilan
Menghampiri segenap jiwamu yang terjangkit dahaga kekuasaan

Duhai dimanakah kau simpan nyala api cinta pada negara
Jika bibirmu tak lagi menggemakan suara pada jiwa sang teraniaya
Telingamu seolah tuli hingga tak mendengar tangisan pilu sang terdakwa
Hatimu telah di belenggu oleh kemuliaan dan kehormatan tak berharga
kau bentangkan tanganmu pada kesia-siaan tak terhingga
Hingga semangat pengabdian yang kau teriakan dalam wacana
Hanyalah lautan hampa tanpa jiwa.........

Tangerang , 10 Desember '09
Catatan Eny Suhaeni

Sabtu, 05 Desember 2009

NEGERI IRONI

Seorang manusia lemah dan papa
dalam kehausannya mencuri semangka
lalu kau jatuhkan palu dakwa
seolah kau tengah menebar benih cinta
pada gemuruh keadilan yang beraroma dusta
pada perangkat hukum yang tak kenal lara
duhai..dimanakah kemanusiaanmu bertahta?

Dalam genggaman hukum kekuasaanmu
air mata dahaganya mengalirkan darah
bergelayut di udara, menapaki lorong-lorong kepiluan
menyangga kehampaan pikiran agungmu
meniupkan kesia-siaan nafas kebijakanmu
menaburkan benih-benih luka pada sang waktu
hatikupun haus memandang kuasamu yang nista
meski samar, namun ku dendangkan pada para penari disinggasanamu
agar bisa ku minum secangkir anggur kearifan pada dahaga keadilan

Lihatlah, pemandangan memilukan di sudut negeri ini
seorang manusia papa nan lemah
menjulurkan tangannya meminta derma keadilan padamu
mengais luka sambil menapaki istana singgasana perangkat hukummu
namun kulihat kau tetap asyik berpesta pora berbagi kenikmatan di ladang kuasamu
menari bersama diringi lagu-lagu merdu keangkuhan aturanmu
meretas keadilan hanya dalam kebenaran perspektifmu

Duhai…pedih nian semesta jiwa ini
hati siapakah yang sanggup menggemakan suaranya?
Jika jiwamu ditulikan oleh debu kekuasaan?
Dan nur'animu dibutakan oleh polusi ketamakan jabatan?
Tangis jiwanya berkobar menyala namun tak mampu menembus kepekatan hatimu
bahkan sedu sedannya tak menggetarkan dinding-dinding nuranimu
dadanya sesak tak lagi bertenaga, hingga menjelma asa yang hampa
sementara tahtamu tak geming dalam kemilau kecurangan
hingga gemanya menggetarkan kemanusiaan dan menembus langit kepiluan

Dimanakah gerangan hati putihmu bertahta wahai para penguasa
jika korupsi trilyunan masih menyimpan sengketa, padahal ia dusta tak terkira
bahkan manusia miskin papa,dalam kehausannya mengambil semangka
hingga tak dinyana ia malah masuk penjara
sementara para perampok uang negara
kau biarkan melenggang di mana-mana...
Betapa negeri ini sebuah negeri dagelan belaka….
Yang makin marak dipenuhi seribu petaka....

Tangerang, 5 Desember 2009
Catatan Eny Suhaeni

Selasa, 01 Desember 2009

Keunggulan dan Semangat (Suwandi, M.Pd.)

Keunggulan dan kerja keras tidak mengenal itu tidak mengenal garis keturunan, gelar kesarjanaan/kebangsawanan/kehormatan yang disendang, mata pencaharian, dan jenjang pendidikan. Siapa saja bisa mencapai keunggulan dan mampu bekerja keras asal memiliki semangat tinggi, jiwa yang selalu ingin tahu, dan tingkat kesabaran yang baik sehingga menggangkat harkat dan martabat manusia ke dalam tingkatan orang-orang yang tinggi

Minggu, 29 November 2009

PEMBENTUKAN SIKAP (SUWANDI, S.Pd.M.Pd)

Sikap sosial terbentuk dari adanya interaksi sosial yang dialami oleh individu. Interaksi sosial merupakan kontak sosial dan hubungan antar indidvidu dengan anggota kelompok sosial. Dalam interaksi sosial terjadi hubungan saling mempengaruhi antar individu yang didalamnya terjadi hubungan timbal balik yang turut mempengaruhi pola perilaku masing-masing individu sebagai anggota masyarakat. Pada pemahaman yang luas interaksi sosial itu meliputi hubungan individu dengan lingkungan fisik maupun lingkungan psikologis di sekelilingnya.
Diantarnya berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah lembaga pendidikan dan lembaga agama, pengalaman pribadi, orang lain yang dianggap penting, kebudayaan, faktor emosi dalam diri individu, dan media massa.

1. Lembaga pendidikan serta lembaga agama
Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
Karena konsep moral dan ajaran agama sangat menentukan sistem kepercayaan maka tidaklah mengherankan kalau moral dan agama ikut berperanan dalam menentukan sikap individu.

2. Pengalaman Pribadi
Peristiwa yang sedang dialami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial. Tanggapan terhadap peristiwa akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap. Untuk mampu memberi tanggapan dan penghayatan maka seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis. Penghayatan membentuk sikap positif dan negatif akan tergantung pada berbagai faktor lain
Pembentukan kesan atau tanggapan terhadap obyek merupakan proses kompleks dalam diri individu yang melibatkan individu yang bersangkutan, situasi dimana tanggapan itu terbentuk dan atribut atau ciri-ciri obyek yang dimiliki oleh stimulus.
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi haruslah meninggalkan kesan yang kuat, oleh karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional. Sebab dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan, akan pengalaman terasa lebih dalam dan lebih lama berbekas.

3. Pengaruh orang lain yang dianggap penting
Orang disekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Seorang yang dianggap penting, seseorang yang kita harapakan persetujuannya bagi setiap gerak tingkah dan pendapat kita, seorang yang tidak ingin kita kecewakan, atau orang yang berarti khusus bagi kita (significant others), akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. Pada umumnya, individu cenderung untuk memilik sikap yang konformis atau searah dengan sikap orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk beralifiasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.

4. Pengaruh kebudayaan
Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita. Apalagi kita hidup dalam budaya yang mempunyai norma longgar bagi kehidupan tertentu maka sikap seseorang akan terbiasa dan cenderung mendukung kebudayaan yang bernorma longgar itu.
Tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan garis pengaruh sikap kita terhadap berbagai masalah. Kebudayaan telah mewarnai sikap anggota masyarakatnya karena kebudayaan pula yang memberi corak pengalaman individu yang menjadi anggota kelompok masyarakat asuhannya. Hanya kepribadian individu yang telah mapan dan kuatlah yang dapat memudarkan dominasi kebudayaan dalam pembentukan sikap individual.

5. Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Seringkali suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persistem dan bertahan lama. Misalnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional yaitu prasangka (prejudice). Prasangka ini diterjemahkan sebagai sikap yang tidak toleran, tidak fair atau tidak favorabel terhadap sekelompok orang.

6. Media Masa
Media televisi, radio, majalah, surat kabar, internet dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang . Dalam penyampaian informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mempengaruhi opini seseorang. Dengan adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognisi baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugesti yang dibawa oleh informasi tersebut, akan memberi dasar afektif dalam menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
Walaupun pengaruh media massa tidak sebesar pengaruh interaksi individu secara langsung namun dalam proses pembentukan dan perubahan sikap maka peranan media massa tidak kecil artinya. Oleh karena itu salah satu bentuk informasi sugestif dalam media massa yaitu iklan selalu dimanfaatkan dalam dunia usaha guna meningkatkan penjualan atau memperkenalkan suatu produk baru. Dengan demikian informasi dalam iklan selalu berisi segi positif mengenai suatu produk sehingga dapat menimbulkan pengaruh afektif yang positif dan merupakan bentuk strategi persuasi.

Kamis, 05 November 2009

Puisi Perempuan (oleh Ida Yanti Darwin)

bukan dari tulang ubun ia dicipta,
sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjungan dan puja..
tak juga dari tulang kaki,
karena nista menjadikannya diinjak dan di perbudak..
tapi dari rusuk kiri, dekat ke hati untuk dicintai,
dekat ke tangan untuk dilindungi, itulah diri PEREMPUAN....!!

oleh Idayanti Darwin,via facebook kamis,5 Nopember 2009 http://www.facebook.com/home.php?ref=home#/home.php?filter=nf

Rabu, 04 November 2009

DESKRIPSI PRASASTI BILULUK-LAMONGAN-GRESIK

Prasasti Biluluk, prasasti ini dikeluarkan antara tahun 1288-1317 Saka (1366-1397 M) ditemukan di Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan berupa tulisan yang digoreskan pada lempengan tembaga. Prasasti itu berasal dari masa Raja Hayam Wuruk (1350-1389 M) dan Wikramawardhana (1389-1429 M). Prasasti itu merupakan surat yang berisi titah raja yang ditujukan keluarga raja yang memerintah di Biluluk dan Tenggulunan. Berdasarkan penafsiran oleh Tim Peneliti buku Sejarah Sunan Drajat disebutkan bahwa Bluluk pada saai ini memang masuk kawasan Lamongan, sedangkan Tenggulunan kemungkinan sekarang masuk kawasan Kecamatan Solokuro. Tenggulunan dimungkinkan juga masuk kawasan Gresik, tepatnya berada di muara Sungai Lamong. (Tim Peneliti, 1998: 72). Tenggulunan di kawasan Gresik dimungkinkan terkait dengan prasasti tersebut, karena sungai Lamong merupakan salah satu jalur perdagangan yang menghubungkan antara pelabuhan Gresik dengan wilayah kekuasaan Majapahit. Adapun kandungan isi dari prasasti Biluluk dapat disimpilkan antara lain:
Orang-orang Biluluk diberi wewenang untuk menimbah air garam pada saat acara pemujaan sekali setahun, sebagaimana yang telah mereka miliki sejak dahulu, asal tidak diperdagangkan. Apabila diperdagangkan dikenakan cukai.
Rakyat Biluluk dan Tenggulunan memperoleh perlindungan dan restu raja, sehingga siapa saja yang merugikan mereka akan terkena supata atau kutukan, yakni akan menderita kecelakaan, antara lain: apabila mereka di padang tegalan akan digigit ular berbisa, apabila masuk hutan akan diterkam harimau, apabila masuk rumah akan diselubungi dan dimakan api, dimana saja akan sengsara, celaka, dan mati.
Memberi kebebasan pada rakyat Biluluk untuk melakukan berbagai pekerjaan, seperti berdagang, membuat arak, memotong, mencuci, mewarna, membuat tepung, gula aren, atau tebu, dan membakar kapur tanpa dipungut beaya.
Status daerah perdikan Biluluk dan Tenggulunan ditingkatkan dari daerah sima menjadi daerah swatantra. Sebagai daerah swatantra atau daerah yang bisa mengurusi rumah tangganya sendiri, rakyatnya dicintai raja, mereka bebas dari kewajiban membayar upeti dan memberi jamuan makan serta bekal pada petugas kerajaan yang sedang lewat atau singgah. Mereka juga dibebaskan membayar berbagai macam cukai, seperti perkawinan, dukun bayi, pembakaran jenazah, upacara kematian (nyadran), angkutan, pendirian rumah, pertunjukan, penitipan barang dagangan berupa cabai, kapulaga, besi, kuali besi, rotan, dan kapas.
Petunjuk bahwa daerah Biluluk dan Tenggulunan diberi status swatantra agar tidak lagi dikuasai Sang Katrini (pejabat tinggi negara), melainkan mempunyai kekuasaan terhadap tukang dan pegawai dengan hak-hak pengaturan perekonomian, keamanan, dan ketentraman.
Kegiatan perekonomian di Kerajaan Majapahit umumnya, di Biluluk dan Tenggulunan khususnya sangat penting artinya bagi negara dan penduduk setempat. Barang-barang dagangan di dua daerah ini yang menonjol antara lain: garam, gula kelapa atau aren, dan dendeng. Dendeng pada masa itu tergolong makanan mewah dan termasuk barang dagangan yang mahal. Bagi rakyat Biluluk dan Tenggulunan, perdagangan dendeng sangat menguntungkan. Usaha yang juga berkembang di dua daerah ini adalah pencelupan atau pewarnaan kain, penggilingan beras atau tepung, dan makan-makanan dari tepung umbi atau kentang.

Oleh : Suwandi, S.Pd.,M.Pd. Guru Sejarah di SMA Negeri 1 Sekaran, Lamongan Jawa Timur

Selasa, 03 November 2009

SURGA di Telapak Kaki IBU... oleh Bule Vaul (videos)

Ibu.. kau terindah dihatiku
Jasamu takkan terbalas olehku
Kau selalu menjagaku
Agar ku tak jatuh kedalam
Lembah Gelap itu…

Ibu.. takkan aku melupakanmu
Kukenang kau dalam bahagiaku
kau begitu indah dihatiku
Selalu ku turuti pintamu

Ibu.. maafkan aku jahat padamu
membuatmu gundah akan sikapku
membuatmu marah karna tingkahku
tapi kau tak pernah membentakku

Ibu.. sungguh besar kasih sayangmu
takkan habis terkikis oleh waktu
takkan terganti oleh harta
Nilainya tak ternilai oleh rupiah

Tapi ijinkan aku ucapkan rasa sayangku
berikan kau hadiah istimewa dariku,
kukan bahagiakanmu selalu
ijinkan ku ungkap rasa bahagiaku
sebagai kado di hari ultahmu
Sepenggal Doa Untuk Ibu
Tulus dari hatiku

Dikoleksi oleh Ina Tresnawati
Selasa, 3 Nopemer 2009
http://www.facebook.com/profile.php?id=100000152881384&ref=nf

marketer bukan selebritis (Iman Supriyono)

Seorang marketer mengenal dan dikenal banyak orang. seorang selebritis dikenal banyak orang, tapi dia tidak mengenali orang orang itu. agar menjadi marketer seseorang perlu: jaga kontak, menambah kontak, memperdalam kontak, baru kemudian ada deal bisnis. seorang marketer tidak pernah menganggap remeh siapun yang dikenalnya. semua orang bermakna. seorang marketer akan menerima telepon dari siapapun walaupun nomor penelepon tidak masuk phone booknya. anda marketer?
Oleh :Iman Supriyono
http://www.snfconsulting.com
Diambil dari http://www.facebook.com/profile.php?id=100000456296209#/inbox/?folder=[fb]messages&page=1&tid=1054918110218

Jumat, 30 Oktober 2009

Malam semakin larut (Ina Tresnawati)

Malam semakin larut...langit semakin kelam...sepi yang mencekam...kenapa kantukku tak jua datang...aku ingin tidur...ingin kurebahkan tubuhku...kupejamkan mataku...kutenangkan fikiranku...dan do'a-doa terucap...semoga kantukku datang dan aku terlelap dalam keheningan....semoga esok masih bisa bertemu senyuman mentari dan orang-orang yang kusayangi (Ina Tresnawati, facebook kamis 29 Oktober 2009 pukul 21.50 WIB)

Kamis, 29 Oktober 2009

Pendidikan Patriotisme (Oleh Suwandi, S.Pd.,M.Pd.*)

Patriotisme secara etimologi berasal dari kata dasar patriot yang artinya pecinta (pembela) tanah air. Maka patriotisme mempunyai makna semangat cinta tanah air yang diwujudkan dengan sikap seseorang yang sudi mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya.
Dalam ensiklopedi Indonesia patriotisme diartikan sebagai rasa cinta tanah air dan kesetiaan seseorang kepada tanah air dan bangsanya, kekaguman kepada adat dan kebiasaannya, serta sikap pengabdian demi kesejahteraan tanah airnya. Di dalamnya juga terkandung makna rasa persatuan dan kesatuan bagi bangsanya.
Secara sederhana patriotisme adalah rasa cinta pada tanah air yang membuahkan sikap pengabdian dan pengorbanan jiwa, raga, materi, dan seluruh kemampuan yang dimilikinya demi kejayaan dan kesejahteraan tanah airnya. Dari pemahaman tersebut seringkali disebut secara bersamaan dengan kata nasionalisme. Kata nasionalisme dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kesadaran keanggotaan dari suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa. Dari pemahaman ini istilah patriotisme dan nasionalisme saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Bahkan Hans Wehr memberikan makna sepadan antara dua istilah tersebut. Karena qaummiyah yang artinya kebangsaan disejajarkan dengan kata wathoniyyah yang artinya cinta tanah air.
Memahami paparan diatas dapat dirumuskan sebuah pengertian pendidikan patriotisme sebagai: bimbingan dan bantuan yang diberikan secara sadar melalui interaksi yang komunikatif antara pendidik (ustadz) dan peserta didik (murid) dalam rangka pembentukan patriot-patriot bangsa yang siap mengabdi dan berkorban untuk kejayaan dan kesejahteraan bangsa dan negaranya.
Pendidikan Patriotisme Dalam Prespektif Islam
Perasaan cinta tanah air diperbolehkan dalam agama Islam, bahkan dianjurkan oleh Rosulullah SAW terbukti dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Hakim dari Anas: Rosulullah SAW bersabda “Cinta Arab sebagian dari iman dan yang membencinya adalah munafik”. Hadits ini mengisyaratkan bahwa patriotisme sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, sebab bila dicermati, kata “Arab” tersebut bermakna bangsa Arab, bahasa Arab, dan tanah (air) Arab. Walaupun tidak ditegaskan apakah Hadits itu bermakna bangsa, bahasa, dan tanah air. Makna dibalik pemahaman ini bahwa bangsa, bahasa, dan tanah air melekat pada kata “Arab” yang disabdakan oleh Nabi SAW.
Dalam kaitannya dengan hidup berbangsa dan bernegara, ada dua makna yang terkandung dalam hadits tersebut: (1) jika anjuran Nabi itu ditujukan kepada orang Arab, berarti hadits tersebut bertujuan menanamkan patriotisme, dan (2) jika hadits itu ditujukan kepada seluruh ummat Islam, berarti hadits tersebut mengajak mencintai semua bangsa untuk saling mencintai. Dengan kata lain yang bukan bangsa Arab (‘Ajam) mencintai bangsa Arab, yang bangsa Arab mencintai bukan bangsa Arab, sebab ummat Islam tidak hanya terdiri dari orang Arab saja.
Patriotisme berbeda dengan fanatisme kesukuan yang jelas dilarang oleh Nabi Muhammad SAW. Dengan sabdanya yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Zubayr Ibnu Mat’am : “Bukan golonganku orang yang mengajak berkelompok (kesukuan / ashobiyyah) dan bukan golonganku orang yang berperang membela kelompoknya dan bukan golonganku orang yang mati karena kelompoknya”.
Sikap berkelompok atau ashobiyah (kesukuan) yang pada ujungnya berakibat pada perpecahan. Sedangkan agama Islam sangat menentang adanya perpecahan atau berpecah belah, sebagaimana firman Allah :”Berpeganglah kamu semua pada tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS 3 Ali ‘Imron:103).
Dengan demikian fanatisme kelompok diangap dosa dan tidak dibenarkan dalam agama Islam karena sangat potensial menyebabkan perpecahan, bahkan fanatisme kelompok dapat mengorbankan kepentingan yang lebih besar yaitu persatuan bangsa dan negara serta agama Islam.
Sementara itu patriotisme, bukanlah semangat kelompok kecil melainkan rasa cinta tanah air yang penuh dengan anjuran persatuan dan kesatuan. Maka patriotisme amat memungkinkan sebagai sarana (wasilah) membangun persatuan dan kesatuan dalam sebuah komponen besar pemerintahan yang sah, meskipun didalamnya ada berbagai suku dan adat istiadat.
Adapun tipe patriotisme yang dimiliki oleh ummat muslim adalah seseorang yang menjadi teladan bagi rakyat negaranya, apapun agama yang dianutnya. Mereka harus saling bekerjasama dalam segala aktivitas guna mempertahankan kedaulatan, mengembangkan ilmu pengetahuan, kebaikan, kekuatan dan segala sumber daya yang dimiliki oleh tanah air (Rashid Ridho, 1994).
Pendidikan patriotisme dimaksudkan untuk penanaman rasa cinta tanah air pada putra-putri bangsa melalui lembaga pendidikan sehingga membentuk patriot bangsa yang bertanggungjawab untuk mewujudkan kedaulatan, kesejahteraan, dan kejayaan negara sesuai dengan kemampuan yang dimiliki dan dibekali dengan ilmu pengetahuan yang memadai untuk membangun negaranya.

*) Penulis adalah aktivis Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Komisariat Surabaya