Rabu, 10 November 2010

Pahlawan di Sisi Allah SWT

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Pada zaman Rasulullah, hiduplah seorang lelaki bernama Amir bin Jamuh. Meskipun kakinya pincang, Amir bertekad untuk ikut bertempur dalam Perang Uhud. Sejumlah sahabat mencegahnya. "Engkau sebaiknya tak ikut berperang karena kakimu pincang." Namun, Amir yang didukung istrinya tetap bertekad untuk ikut membela agama Allah SWT.
"Aku tidak percaya mereka telah melarangmu untuk ikut dalam pertempuran itu," tutur sang istri. Mendengar dukungan dari istrinya, Amir segera mengambil senjata, kemudian berdoa, "Ya, Allah, janganlah Engkau kembalikan aku kepada keluargaku."
Amir lalu menemui Rasulullah SAW. Dengan gigih, ia meyakinkan Nabi SAW. Sebenarnya, Nabi Muhammad meminta Amir agar tak ikut berperang. Namun, Amir terus mendesak dan akhirnya Rasulullah pun mengizinkannya.
Di medan pertempuran, Amir berteriak, "Demi Allah, aku ini sangat mencintai surga." Amir akhirnya gugur syahid di medan pertempuran. Setelah mendengar kabar kematian suaminya, sang istri segera mengendarai seekor unta untuk membawa pulang jenazahnya.
Ketika jenazah Amir diletakkan di atas unta, hewan itu tak mau berdiri. Berbagai upaya dilakukan, unta itu tetap tak mau berjalan, tapi malah asyik memandang Uhud. Ketika Rasulullah mengetahui kabar itu, beliau bersabda, "Sesungguhnya, unta itu telah diperintahkan untuk berlaku demikian. Adakah Amir mengatakan sesuatu ketika ia akan pergi meninggalkan rumahnya?"
Istrinya memberi tahu Rasulullah. Sebelum meninggalkan rumah untuk bertempur di medan perang, Amir menghadap kiblat sambil berdoa, "Ya, Allah, janganlah Engkau kembalikan aku kepada keluargaku." Itulah sebabnya, kata Rasulullah, unta itu tak mau pulang.
Kisah yang tercantum dalam kitab Himpunan Fadilah Amal karya Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi itu menggambarkan keberanian dan kepahlawanan orang yang berjuang di jalan Allah. Mereka hanya berharap menjadi pahlawan yang gugur syahid di sisi-Nya.
Dalam surah Ali Imran [3] ayat 169-170, disebutkan bahwa orang yang gugur di jalan Allah sebenarnya tak mati, tetapi hidup di sisi Sang Khalik. Menurut Quraish Shihab, secara jasmani mereka telah mati, namun hidup dalam kehidupan yang berbeda dengan dunia.
Mereka yang gugur di jalan Allah SWT benar-benar hidup di alam yang lain, berbeda dengan alam kita. Mereka tetap bergerak, bahkan mereka lebih leluasa dari manusia di bumi ini. Mereka tahu lebih banyak dari apa yang diketahui oleh yang berdenyut jantungnya.
Di alam sana, orang-orang yang gugur di jalan Allah telah melihat dan mengetahui nomena, bukan fenomena. Mereka juga mendapat rezeki dari Allah yang sesuai dengan kehidupan alam barzah. Maka itu, mereka bergembira karena berada dalam kehidupan yang sebenarnya di sisi Allah.
Mudah-mudahan, para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia menjadi pahlawan yang mendapat gelar yang paling tinggi, yaitu sebagai syuhada di sisi Allah SWT.
Republika OnLine Rabu, 10 November 2010, 11:28 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/11/10/145821-pahlawan-di-sisi-allah-swt

Mengenang Heroisme Pertempuran 10 November 1945 Kalah Perang Kok Jadi Hari Pahlawan?

Pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan. Itu diputuskan oleh almarhum Presiden Soekarno pada 31 Oktober 1946 melalui Surat Penetapan bernomor 9/OEM/1946. Mengapa tanggal itu dipilih padahal dalam peperangan 10 November 1945, para pejuang RI akhirnya kalah?
Pertempuran yang meletus pada 10 November 1945 berawal dari ultimatum pasukan Sekutu (yang diwakili Inggris) kepada para pejuang Indonesia, khususnya di Surabaya.
Pasukan Sekutu mulai berdatangan di Indonesia, termasuk Surabaya, pada 15 September 1945 setelah Sekutu menang Perang Dunia (PD) II melawan pasukan As –yang diperkuat Jerman dan Jepang.
“Karena Belanda berada di pihak Sekutu saat PD II, Belanda membonceng kedatangan pasukan Sekutu itu untuk mengembalikan kedudukannya di Indonesia setelah sebelumnya Indonesia jatuh ke tangan Jepang (1942-1945),” kata Eddy Emanuel Samson, 76, anggota Tim 11 Cagar Budaya Kota Surabaya kepada Surya pekan lalu.
Mengetahui diboncengi Belanda, para pejuang Indonesia tidak menyambut baik masuknya Sekutu yang berdalih untuk melucuti pasukan Jepang itu.
“Tembak-menembak sporadis terjadi antara tentara Sekutu dan pejuang Indonesia sejak 15 September itu,” tutur Hartoyik, 82, Ketua Veteran 45 Surabaya,
Puncaknya, kata Hartoyik, adalah saat ultimatum diberikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh setelah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby (pimpinan tentara Sekutu/Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 di sekitar Jembatan Merah. Mansergh merupakan pengganti Mallaby, dan menuduh bahwa yang menewaskan Mallaby adalah pejuang Indonesia.
Mansergh mengancam, mulai 9 November sampai 10 November pukul 06.00 WIB para pejuang harus menyerahkan diri beserta senjatanya dengan mengangkat tangan di atas kepala. Jika batas waktu 10 November itu dilewati dan ultimatum tidak dipenuhi, maka Surabaya akan digempur habis-habisan.
Benar juga, lepas pukul 06.00 WIB pada 10 November, pasukan Inggris mulai melancarkan gempuran besar-besaran dan dahsyat, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah besar kapal perang.
Berbagai bagian Kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat.
Diperkirakan, sekitar 60.000 pejuang gugur, dan sekitar 200.000 rakyat sipil berbondong-bondong mengungsi dari Surabaya untuk menghindari perang.
Akhirnya, setelah bombardir selama sekitar 100 hari, Surabaya berhasil jatuh ke tangan Sekutu.
Kalau dalam peperangan 10 November para pejuang Indonesia kalah, mengapa tanggal itu justru diperingati sebagai Hari Pahlawan?
Menurut Eddy Emanuel Samson, yang juga ketua de Indo Club Surabaya, peperangan tersebut tak bisa dilihat sebagai persoalan kalah atau menang dalam jangka pendek.
Eddy –yang lahir di Tambaksari dan berusia 12 tahun saat terjadi perang 10 November—menjelaskan, awalnya pasukan Sekutu mengira bahwa dengan persenjataan modern dalam jumlah besar, mereka akan bisa tundukkan Surabaya dalam 3 hari.
Nyatanya, perang tersebut berlangsung hampir 100 hari hingga melewati Desember 1945. Ini karena tak hanya pasukan resmi Republik Indonesia (yakni Tentara Keamanan Rakyat) yang terlibat perang. Milisi-milisi rakyat yang dibentuk oleh organisasi-organisasi keagamaan sepertu NU juga ikut mendukung setelah munculnya resolusi jihad yang dicetuskan para ulama Jatim, di antaranya KH Hasyim Asy`ari (pendiri NU), KH. Wahab Hasbullah serta para kyai pesantren lainnya.
Meskipun kalah, kegigihan dan militansi para pejuang arek-arek Suroboyo dalam menghadapi pasukan penjajah telah mengilhami rakyat di daerah-daerah lain di Indonesia untuk berani melawan penjajah baru. Di antaranya di Jakarta pada tanggal 18 November, di Semarang pada 18 November, di Riau 18 November, di Ambarawa tanggal 21 November, di Bandung 6 Desember dan di Medan pada 6 Desember.
”Perjuangan arek-arek Suroboyo telah menggugah rasa kebersamaan patriotik dalam perjuangan,” kata Eddy. Itu pula tampaknya alasan yang mendasari Pemerintah di zaman Soekarno menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Soal perang di Surabaya, Eddy Samson memiliki fotokopi potongan berita koran United Press terbitan Inggris. Dalam surat kabar bertanggal 22 November 1945 tertulis bahwa penyerangan sekutu di Kota Surabaya diduga telah menyebabkan 60.000 warga Kota Surabaya tewas, termasuk sekitar 5.000 warga etnis Tionghoa yang bermukim di Surabaya.
Surya Online Rabu, 10 Nopember 2010 | 07:09 WIB
http://www.surya.co.id/2010/11/10/10-november-kalah-perang-kok-jadi-hari-pahlawan.html

Minggu, 31 Oktober 2010

Memahami Keutamaan Dzikir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Suatu hari Rasulullah SAW berkumpul bersama para sahabat. Lalu beliau bersabda, "Maukah kamu aku tunjukkan perbuatanmu yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat derajatmu; lebih baik bagimu daripada berinfak dengan emas atau perak, dan lebih baik bagimu daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka memenggal lehermu?"
Serempak para sahabat berkata, "Mau (wahai Rasulullah)!" Beliau pun bersabda, "Zikir kepada Allah Yang Maha Mulia." (HR at-Tirmidzi). Hadis tersebut tidaklah berarti meremehkan amal-amal saleh selain zikir. Tetapi, Rasulullah hanya menunjukkan betapa zikir merupakan asas yang sangat penting bagi semua amal ibadah.
Beribadah kepada Allah adalah mengingat-Nya. Sesungguhnya, zikir memiliki sederet keutamaan. Salah satu keutamaan berzikir adalah menenangkan hati atau jiwa. Jiwa manusia itu memerlukan berbagai 'konsumsi' bermanfaat yang dapat menguatkannya.
Banyak manusia mengalami penderitaan jiwa, sebab tak mau kembali kepada Allah. Mereka lebih suka lari dari masalah dengan mengonsumsi minuman keras atau narkotika. Akhirnya, mereka semakin sengsara.
Sesungguhnya penawar jiwa yang paling utama adalah zikir. "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram." (QS al-Ra'd (13): 28).
Dengan berzikir, dosa-dosa seorang hamba akan digugurkan oleh Allah dan akan diberi rahmat oleh-Nya. Salah satu bentuk zikir adalah beristighfar atau meminta ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat mencinta hamba-hamba-Nya yang senantiasa meminta ampun kepada-Nya. (QS Nuh (71) :10-12).
Selain diampuni segala dosa dan diberi rahmat, orang-orang yang senantiasa beristighfar juga akan dihindarikan dari azab Allah baik di dunia maupun di akhirat. "Dan Allah sekali-kali tak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka meminta ampun.'' (QS al-Anfaal (8): 33).
Banyak berzikir juga akan mendatangkan kemenangan dan keberuntungan. Dalam Islam, makna keberuntungan bukan hanya bersifat duniawi, tetapi juga ukhrawi. Keberuntungan ukhrawi selalu menjadi prioritas orang beriman, yang hanya diperoleh dengan cara mengingat Allah sebanyak-banyaknya. {QS al-Jumu'ah (62):10}.
Sebaliknya, orang yang tak mengingat Allah akan selalu diganggu setan. Mereka yang tidak mau mengingat Allah, berarti mengikut hawa nafsunya. Siapa yang mengikut hawa nafsunya, berarti mengikuti langkah-langkah setan dalam kehidupannya.
Orang-orang yang betul-betul beriman senantiasa mengingat Allah dalam keadaan apa pun. Kesibukan duniawi tak akan melalaikannya dari tetap berzikir kepada Allah. (QS an-Nur (24): 37). Mereka juga yakin sepenuh hati bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan segala amal perbuatan hambanya serta tak akan menyalahi janji-Nya.
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah Selasa, 26 Oktober 2010, 10:11 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/26/142497-memahami-keutamaan-zikir

Sosok Pemuda Ideal Dihadirat Mata Allah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kata-kata pemuda dalam Alquran diistilahkan dengan fatan, seperti firman Allah SWT pada surah al-Anbiya [21] ayat 60 tentang pemuda Ibrahim. "Mereka berkata, 'Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim'."
Bentuk jamak dari fatan adalah fityah (pemuda-pemuda), seperti kisah pemuda-pemuda Ashabul Kahfi pada surah al-Kahfi [18] ayat 13. "Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya, mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk."
Dalam hadis, pemuda sering diistilahkan dengan kata-kata syaabun. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa di antara tujuh kelompok yang akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari ketika tak ada naungan, selain naungan-Nya, adalah syaabun nasya'a fii 'ibaadatillaah (pemuda yang tumbuh berkembang dalam pengabdian kepada Allah SWT).
Eksistensi dan peranan pemuda sangat penting. Dalam Alquran ataupun hadis, banyak diungkapkan karakteristik sosok pemuda ideal yang harus dijadikan teladan oleh pemuda yang bercita-cita sebagai orang atau pemimpin sukses. Pertama, memiliki keberanian (syaja'ah) dalam menyatakan yang hak (benar) itu hak (benar) dan yang batil (salah) itu batil (salah). Lalu, siap bertanggung jawab serta menanggung risiko ketika mempertahankan keyakinannya.
Contohnya adalah pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala-berhala kecil, lalu menggantungkan kapaknya di leher berhala yang paling besar untuk memberikan pelajaran kepada kaumnya bahwa menyembah berhala itu (tuhan selain Allah SWT) sama sekali tidak ada manfaatnya. Kisah keberaniannya dikisahkan dalam surah al-Anbiya [21] ayat 56-70.
Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Artinya, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah [2]: 260). Ketiga, selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul-Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi [18] ayat 13-25. Jadi, berkelompok bukan untuk hura-hura atau sesuatu yang tidak ada manfaatnya.
Keempat, selalu berusaha untuk menjaga akhlak dan kepribadian sehingga tidak terjerumus pada perbuatan asusila. Hal ini seperti kisah Nabi Yusuf dalam surah Yusuf [12] ayat 22-24. Kelima, memiliki etos kerja dan etos usaha yang tinggi serta tidak pernah menyerah pada rintangan dan hambatan. Hal itu dicontohkah pemuda Muhammad yang menjadikan tantangan sebagai peluang hingga ia menjadi pemuda yang bergelar al-amin (tepercaya) dari masyarakatnya.
Dalam memperingati Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober, sosok pemuda ideal yang dicontohkan dalam Alquran dan hadis diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi para pemuda Indonesia masa kini. Wallahu a'lam.
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah Jumat, 29 Oktober 2010, 10:50 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/29/143264-sosok-pemuda-ideal-di-mata-allah

Mencari Teman Sejati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kecenderungan untuk berteman. Islam menganjurkan untuk menjalin pertemanan dengan baik. Pertemanan yang di dalamnya saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan kesabaran (QS Al-'Ashr [103]: 3).
Islam juga mengingatkan penganutnya agar berhati-hati dalam memilih teman. Sayidina Ali RA pernah berkata, "Kalau kalian ingin melihat kepribadian seseorang, lihatlah bagaimana teman-temannya." Rasulullah juga mengingatkan, "Seseorang itu dipengaruhi oleh agama teman-temannya. Oleh sebab itu, berhati-hatilah dengan siapa kita bergaul."
Ali Zaenal Abidin berkata kepada putranya, "Wahai anakku, berhati-hatilah terhadap lima kelompok. Jangan berteman dan jangan berbicara kepada mereka, serta jangan menjadikannya teman dalam perjalanan." Lalu putranya bertanya tentang lima kelompok itu.
Sang ayah pun menjawab, "Pertama, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang berkata dusta. Dia bagaikan bayangan yang mendekatkan engkau dari sesuatu yang jauh dan menjauhkan engkau dari hal yang dekat. Kedua, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang fasik, sebab dia akan menjualmu seharga butiran atau lebih rendah dari itu."
"Ketiga, berhati-hatilah engkau dan jangan bergaul dengan orang kikir, sebab dia akan menjauhkanmu dari hartanya ketika engkau memerlukannya. Keempat, berhati-hatilah engkau dan jangan bergaul dengan orang yang dungu, sebab dia ingin mendapat manfaat darimu, tetapi mencelakakanmu. Kelima, berhati-hatilah dan jangan bergaul dengan orang yang tidak memperhatikan kerabatnya, sebab aku mendapatkannya sebagai orang yang dilaknat Alquran dalam tiga tempat (ayat)."
Nasihat itu menunjukkan bahwa pertemanan sejati dapat dijalin dengan kejujuran, ketaatan beragama, kedermawanan, kemauan belajar, dan silaturahim. Kejujuran dapat menunjukkan dan menerima kebenaran. Kedermawanan dapat mendekatkan hubungan antarmanusia. Kemauan belajar dapat membuat orang saling memahami dan menghargai. Sedangkan, silaturahim dapat menjalin persaudaraan, umur panjang, dan kelimpahan rezeki.
Dalam pandangan Islam, teman juga dapat berupa perilaku atau amal. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan mencari dan membinanya. Iman dan amal saleh dalam pandangan Islam dapat menolong dan menyelamatkan seseorang dari kehinaan.
Sayidina Ali berkata, "Sesungguhnya, ada tiga jenis teman bagi seorang Muslim. Pertama, teman yang berkata, 'Aku bersamamu di kala engkau hidup atau pun mati,' dan inilah amalnya. Kedua, teman yang berkata, 'Aku bersamamu hanya sampai kuburanmu, kemudian meninggalkanmu,' Inilah anaknya."
"Ketiga, teman yang berkata, 'Aku bersamamu hingga engkau mati,' inilah kekayaannya yang akan menjadi milik ahli waris ketika dia meninggal." Amal salehlah yang dapat menolong seseorang tatkala menghadapi pengadilan Tuhan dan tatkala tiada seorang pun sebagai penolong." Oleh karena itu, setiap Muslim perlu memperhatikan etika pertemanan dan berusaha menjadi teman yang sejati.
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah Senin, 25 Oktober 2010, 09:21 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/25/142215-mencari-teman-sejati
Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Nurkholik

Kamis, 28 Oktober 2010

Apakah Menulis Bisa Mudah dan Cepat?

Itu pertanyaan yang lama sekali mengganggu pikiran saya. Jika anda meyakini bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, mestinya ada panduan yang benar-benar bisa memandu orang untuk menulis secara mudah dan cepat.
Ada nasihat yang sudah lama saya dengar: Menulislah sebagaimana anda bicara. Saya kira anda bisa mendapatkan titik terang dari sana. Ketika anda bicara, anda tidak merisaukan kata-kata yang anda sampaikan. Ketika anda bicara, gagasan anda mudah ditangkap oleh lawan bicara anda. Ketika anda bicara, anda tidak terlalu berpikir apakah anda akan menggunakan kata-kata yang sanggup mengguncangkan dunia atau, setidaknya, membikin ayan pendengar anda. Anda berbicara lancar karena anda sudah menguasai kecakapan itu.
Maka, ketika anda menulis seperti anda bicara, gagasan yang anda sampaikan dalam tulisan anda pastilah bisa ditangkap dengan mudah. Dan anda akan menulis lebih cepat dan lebih lancar. Atau anda memang ingin menulis dalam cara yang tidak mudah dipahami?
Saya kira itu warisan dari pelajaran kesastraan yang kita dapatkan di SMP. Oleh buku pelajaran sastra SMP, kita diberi tahu bahwa konon bahasa kesusastraan adalah bahasa yang berbeda dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Bahasa kesusastraan adalah bahasa indah, kalau bisa setiap kata harus ditumbuhi sayap yang akan terus mengepak-ngepak sampai tiba hari kiamat. Setiap kata dalam karya sastra, kalau kita menjualnya eceran, mungkin harganya Rp50 ribu, sementara bahasa sehari-hari harganya Rp1.000,- saja. Untuk membenarkan anggapan itu, kita diberi contoh-contoh puisi karya J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah, dan sebagainya, yang memang menggunakan bahasa Melayu dengan rasa bahasa zaman itu. Tentu saja itu jauh berbeda dibandingkan bahasa keseharian kita sekarang.
Penanaman keyakinan semacam itu mengenai bahasa kesusastraan saya kira telah mewariskan ketegangan pada siapa saja yang berniat menulis. Saya sudah lama tidak membaca buku pelajaran kesusastraan SMP, sehingga tidak tahu lagi apakah pandangan tentang sastra masih seperti itu atau sudah berubah.
Namun, terus terang, pelajaran itu sempat memberikan beban mahaberat kepada saya ketika saya mula-mula belajar menulis. Yang membuat saya bisa menyingkirkan beban pelajaran SMP dan lebih rileks dalam urusan tulis-menulis adalah adanya orang-orang yang tidak memedulikan apakah setiap kata dalam tulisan mereka harus kata-kata besar atau kata-kata yang mungil belaka. Penulis Ernest Hemingway mengatakan, “... ada kata-kata yang lebih lazim, lebih simpel, dan lebih baik, dan kata-kata seperti itulah yang saya gunakan.” Dan dengan keyakinan semacam itu, ia menjadi penulis yang produktif. Penulis fiksi ilmiah paling produktif, Isaac Asimov, menyatakan hal yang kurang lebih serupa ketika ditanya apa rahasia kreativitasnya. “Karena saya menulis simpel dan apa adanya,” katanya.
Jadi apakah menulis bisa dilakukan secara mudah dan cepat?
Sekarang saya akan menjawab itu dengan sebuah pertanyaan juga: Kenapa tidak membuktikannya? Penulis kita Budi Darma membuktikan itu dengan menyelesaikan salah satu bukunya dalam waktu seminggu. Edward de Bono menulis Buku tentang Kearifan hanya dalam waktu empat pagi hari. "Karena siang hari terlalu panas, dan malamnya ada acara," katanya. Robert L. Stevenson konon menulis salah satu novelnya yang sangat terkenal The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde dalam waktu 72 jam. Dan dalam urusan kecepatan ini, contoh yang sangat fenomenal adalah Issac Asimov. Ia menulis ratusan novel fiksi ilmiah dan terus mampu mempertahankan kecepatan dan kualitas penulisannya dengan cara “simpel dan apa adanya.”

Apa Rahasia Menulis Cepat
Rahasia menulis cepat adalah anda menulis secepat-cepatnya. Jika anda tersendat-sendat, dan sangat mencintai tombol backspace, maka saya harus mengingatkan lagi, singkirkan pikiran anda. Ia punya bagiannya nanti. Anda hanya perlu menumpahkan apa saja secepat-cepatnya. Mungkin kalimat anda tidak runtut, tulisan anda salah-salah ketik. Tidak ada masalah dengan itu. Kalimat anda meloncat-loncat, tidak apa-apa. Yang pentinga adalah anda terus bergerak maju dengan kecepatan tinggi. Anda tidak perlu merisaukan apa pun.
Ketika anda mengerjakan sesuatu tanpa berpikir, anda bisa menyelesaikan urusan itu secara cepat. Berpikir keras biasanya hanya kita lakukan ketika kita sedang dalam tahap belajaran untuk menguasai keterampilan tertentu. Ketika kita sudah cakap, kita bisa mengerjakannya “di luar kepala.” Saya kira kecakapan menulis juga tidak terlepas dari hukum itu.
Apa lagi rahasia menulis cepat? Menulislah seperti anda bicara. Tampaknya ini adalah formulasi lain untuk pernyataan Isaac Asimov tentang menulis secara simpel dan apa adanya.
Masih ada lagi? Buatlah pertanyaan. Anda akan menulis lancar dengan cara merespons pertanyaan. Dan jawaban atas sebuah pertanyaan akan menghasilkan tulisan sepanjang apa pun yang anda kehendaki. Dan anda hanya perlu menulis secepat-cepatnya ketika menjawab pertanyaan itu.
Sumber: http://as-laksana.blogspot.com/2010/09/apakah-menulis-bisa-mudah-dan-cepat.html

Apakah Menulis Bisa Mudah dan Cepat?

Itu pertanyaan yang lama sekali mengganggu pikiran saya. Jika anda meyakini bahwa menulis adalah sebuah keterampilan, mestinya ada panduan yang benar-benar bisa memandu orang untuk menulis secara mudah dan cepat.
Ada nasihat yang sudah lama saya dengar: Menulislah sebagaimana anda bicara. Saya kira anda bisa mendapatkan titik terang dari sana. Ketika anda bicara, anda tidak merisaukan kata-kata yang anda sampaikan. Ketika anda bicara, gagasan anda mudah ditangkap oleh lawan bicara anda. Ketika anda bicara, anda tidak terlalu berpikir apakah anda akan menggunakan kata-kata yang sanggup mengguncangkan dunia atau, setidaknya, membikin ayan pendengar anda. Anda berbicara lancar karena anda sudah menguasai kecakapan itu.
Maka, ketika anda menulis seperti anda bicara, gagasan yang anda sampaikan dalam tulisan anda pastilah bisa ditangkap dengan mudah. Dan anda akan menulis lebih cepat dan lebih lancar. Atau anda memang ingin menulis dalam cara yang tidak mudah dipahami?
Saya kira itu warisan dari pelajaran kesastraan yang kita dapatkan di SMP. Oleh buku pelajaran sastra SMP, kita diberi tahu bahwa konon bahasa kesusastraan adalah bahasa yang berbeda dari bahasa yang kita gunakan sehari-hari. Bahasa kesusastraan adalah bahasa indah, kalau bisa setiap kata harus ditumbuhi sayap yang akan terus mengepak-ngepak sampai tiba hari kiamat. Setiap kata dalam karya sastra, kalau kita menjualnya eceran, mungkin harganya Rp50 ribu, sementara bahasa sehari-hari harganya Rp1.000,- saja. Untuk membenarkan anggapan itu, kita diberi contoh-contoh puisi karya J.E. Tatengkeng, Amir Hamzah, dan sebagainya, yang memang menggunakan bahasa Melayu dengan rasa bahasa zaman itu. Tentu saja itu jauh berbeda dibandingkan bahasa keseharian kita sekarang.
Penanaman keyakinan semacam itu mengenai bahasa kesusastraan saya kira telah mewariskan ketegangan pada siapa saja yang berniat menulis. Saya sudah lama tidak membaca buku pelajaran kesusastraan SMP, sehingga tidak tahu lagi apakah pandangan tentang sastra masih seperti itu atau sudah berubah.
Namun, terus terang, pelajaran itu sempat memberikan beban mahaberat kepada saya ketika saya mula-mula belajar menulis. Yang membuat saya bisa menyingkirkan beban pelajaran SMP dan lebih rileks dalam urusan tulis-menulis adalah adanya orang-orang yang tidak memedulikan apakah setiap kata dalam tulisan mereka harus kata-kata besar atau kata-kata yang mungil belaka. Penulis Ernest Hemingway mengatakan, “... ada kata-kata yang lebih lazim, lebih simpel, dan lebih baik, dan kata-kata seperti itulah yang saya gunakan.” Dan dengan keyakinan semacam itu, ia menjadi penulis yang produktif. Penulis fiksi ilmiah paling produktif, Isaac Asimov, menyatakan hal yang kurang lebih serupa ketika ditanya apa rahasia kreativitasnya. “Karena saya menulis simpel dan apa adanya,” katanya.
Jadi apakah menulis bisa dilakukan secara mudah dan cepat?
Sekarang saya akan menjawab itu dengan sebuah pertanyaan juga: Kenapa tidak membuktikannya? Penulis kita Budi Darma membuktikan itu dengan menyelesaikan salah satu bukunya dalam waktu seminggu. Edward de Bono menulis Buku tentang Kearifan hanya dalam waktu empat pagi hari. "Karena siang hari terlalu panas, dan malamnya ada acara," katanya. Robert L. Stevenson konon menulis salah satu novelnya yang sangat terkenal The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde dalam waktu 72 jam. Dan dalam urusan kecepatan ini, contoh yang sangat fenomenal adalah Issac Asimov. Ia menulis ratusan novel fiksi ilmiah dan terus mampu mempertahankan kecepatan dan kualitas penulisannya dengan cara “simpel dan apa adanya.”

Apa Rahasia Menulis Cepat
Rahasia menulis cepat adalah anda menulis secepat-cepatnya. Jika anda tersendat-sendat, dan sangat mencintai tombol backspace, maka saya harus mengingatkan lagi, singkirkan pikiran anda. Ia punya bagiannya nanti. Anda hanya perlu menumpahkan apa saja secepat-cepatnya. Mungkin kalimat anda tidak runtut, tulisan anda salah-salah ketik. Tidak ada masalah dengan itu. Kalimat anda meloncat-loncat, tidak apa-apa. Yang pentinga adalah anda terus bergerak maju dengan kecepatan tinggi. Anda tidak perlu merisaukan apa pun.
Ketika anda mengerjakan sesuatu tanpa berpikir, anda bisa menyelesaikan urusan itu secara cepat. Berpikir keras biasanya hanya kita lakukan ketika kita sedang dalam tahap belajaran untuk menguasai keterampilan tertentu. Ketika kita sudah cakap, kita bisa mengerjakannya “di luar kepala.” Saya kira kecakapan menulis juga tidak terlepas dari hukum itu.
Apa lagi rahasia menulis cepat? Menulislah seperti anda bicara. Tampaknya ini adalah formulasi lain untuk pernyataan Isaac Asimov tentang menulis secara simpel dan apa adanya.
Masih ada lagi? Buatlah pertanyaan. Anda akan menulis lancar dengan cara merespons pertanyaan. Dan jawaban atas sebuah pertanyaan akan menghasilkan tulisan sepanjang apa pun yang anda kehendaki. Dan anda hanya perlu menulis secepat-cepatnya ketika menjawab pertanyaan itu.
Sumber: http://as-laksana.blogspot.com/2010/09/apakah-menulis-bisa-mudah-dan-cepat.html

Rabu, 20 Oktober 2010

Menjauhi Penyakit Hati

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Suatu hari, seorang laki-laki menemui Nabi Muhammad SAW, "Wahai Rasulullah, berwasiatlah kepadaku." Lalu Rasulullah bersabda, "Janganlah kamu marah!" Beliau mengulanginya berkali-kali, lalu bersabda, "Janganlah kamu marah." (HR Bukhari)
Hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah RA di atas berisi wasiat Rasulullah kepada umatnya agar menjauhi berbagai penyakit hati, seperti marah, dendam, iri, serta dengki kepada sesama. Ada dua jenis penyakit yang senantiasa melekat pada tubuh manusia, yaitu penyakit fisik dan penyakit hati.
Penyakit fisik terkadang mendapat perhatian lebih ketimbang penyakit hati. Padahal, penyakit hati pun berpotensi menimbulkan efek yang luar biasa. Banyak yang tak menyadari bahwa penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya.
Berbeda dengan penyakit fisik yang kasat mata dan dapat dirasakan, penyakit hati justru tersembunyi. Meski tak terlihat, penyakit hati akan melahirkan gangguan psikologis yang berpengaruh pada kesehatan fisik. Salah satu penyakit hati yang sering kali muncul pada seorang manusia adalah dendam.
Dendam merupakan kumpulan marah dan amarah yang bisa menggerogoti kebersihan hati. Seorang yang menyemai dendam dalam hatinya, tak akan mengalami ketidaktenangan diri, sebelum kemarahannya terlampiaskan. Sering kali orang mengabaikan penyakit hati ini. Padahal, tidak sedikit masalah yang besar lahir justru berawal dari penyakit hati ini.
Ada dua dampak yang akan dialami oleh orang-orang yang memiliki penyakit hati. Pertama, orang yang memiliki penyakit hati, ketika menguasai ilmu, maka ilmunya tidak bermanfaat dan tidak menjadikannya lebih dekat kepada Allah SWT. Kedua, tidak bisa fokus atau khusyuk dalam beraktivitas. Dalam menjalankan ibadah, misalnya, tidak bisa mengkhusyukkan hatinya sehingga tidak bisa menikmati keajaiban amalan ibadah yang dilakukannya.
Ketika hati sudah sakit dan rusak, maka sangat sulit bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sang Khalik menciptakan hati pada diri manusia sebagai tempat bersemayam diri-Nya. "Langit dan bumi tidak dapat meliputi-Ku, hanya hati yang dapat meliputi-Ku,'' demikian bunyi salah satu Hadis Qudsi.
Hadis itu menunjukkan betapa hati memiliki fungsi yang penting untuk mengenal, mencintai, dan menemui Allah SWT. Hati yang berpenyakit ditandai dengan tertutupnya mata batin dari penglihatan-penglihatan ruhaniah. Manusia tak akan menemukan kepuasan dan kebahagiaan puncak, jika hatinya tertutup berbagai penyakit hati.
Hanya dengan selalu bertobat, berzikir, dan mengerjakan berbagai amalan ibadah dan aktivitas yang sesuai syariat-Nya, hati ini akan bersih. Sesungguhnya hati ini adalah taman yang harus senantiasa dibersihkan dan ditata.
"Hai anak Adam, Aku telah menciptakan taman bagimu, dan sebelum kamu bisa masuk ke taman ciptaan-Ku, Aku usir setan dari dalamnya. Dan dalam dirimu ada hati, yang seharusnya menjadi taman yang engkau sediakan bagi-Ku." (Hadis Qudsi).
Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Encep Dulwahab
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Selasa, 19 Oktober 2010, 09:32 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/19/141042-menjauhi-penyakit-hati

Menaklukkan Hawa Nafsu

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Dikisahkan, sekembalinya dari sebuah pertempuran, Rasulullah SAW berkata, "Kita baru saja pulang dari jihad (perang) kecil menuju jihad terbesar (al-jihad al-akbar)." Sambil terperangah, para sahabat bertanya, "Apakah gerangan perang terbesar itu wahai Rasulullah?" Nabi menjawab, ''Mujahadat al-Nafs" (perang menaklukkan diri sendiri). (HR Baihaqi dari Jabir).
Meskipun dipandang lemah oleh al-Albani dalam Silsilat al-Dha`if wa al-Maudhu`ah, hadis ini sesungguhnya dapat dipandang sahih ditilik dari segi maknanya (shahih fi al-ma`na). Ada beberapa hadis lain yang semakna dan derajat kualitasnya lebih tinggi. Di antaranya hadis yang menyatakan, "Petarung sejati (mujahid) adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Orang yang hijrah adalah orang yang mampu meninggalkan keburukan.'' (HR Ahmad dan Baihaqi dari Fadhalah ibn `Ubaid).
Untuk keluar sebagai pemenang dalam perang terbesar ini, kita perlu mengetahui dan melakukan beberapa hal. Pertama, mengenali musuh utama kita sendiri, yaitu hawa nafsu. Dalam Alquran, kata hawa bermakna keinginan atau kecenderungan kepada sesuaatu yang buruk atau sesuatu yang melawan kebenaran dan kebaikan.
Disebut hawa, menurut pakar bahasa al-Ishfahani, karena keinginan itu membikin manusia lalai (wahiyah) di dunia dan menjerumuskannya ke dalam neraka (hawiyah) di akhirat. "Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun." (QS Qashash (28): 50).
Kedua, mengelola dan mengendalikan nafsu dengan menggunakan kekuatan dan kecerdasan akal. Menurut filosof Muslim Ibnu Masykawaih, akal bukan hanya alat berpikir, melainkan juga alat kontrol dan pengendali (tadbir) kecederungan-kecenderungan yang bersifat destruktif dalam diri. Jadi, akal harus kendalikan nafsu.
Ketiga, melawan dan menolak kecenderungan nafsu, yakni tidak menuruti dan mengikuti kemauannya. Kalau Anda ingin menemukan kebenaran, demikian disarankan oleh orang bijak, maka perhatikanlah keinginan dan kecenderungan Anda, lalu ambillah sesuatu yang bertolak belakang dengan keinginan itu. Itulah kebenaran dan itulah yang dinamakan "Mukhalafat al-Hawa".
Keempat, menaklukkan nafsu dan menguasai sepenuh-penuhnya. Menurut Ghazali, perang dan pertarungan melawan nafsu berlangsung setiap saat. Dalam pertarungan ini, kita bisa menang pada suatu waktu, tetapi kalah pada waktu yang lain. Begitulah seterusnya, menang dan kalah silih berganti.
Namun, bagi orang-orang tertentu, yang terpelajar dan terlatih, serta mendapat pertolongan dari Allah, mereka mampu menaklukkannya dan keluar sebagai pemenang. Mereka itulah yang dinamakan petarung sejati. Allah SWT menjanjikan kemuliaan dan surga kepada mereka. "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal-(nya)." (QS al-Nazi`at (79):40-41). Wallahu a`lam
Red: Budi Raharjo
Rep: Dr A lyas Ismail MA
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Rabu, 20 Oktober 2010, 10:00 WIB
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/20/141302-menaklukkan-hawa-nafsu

Minggu, 17 Oktober 2010

Menyikapi Musuh

“Disadari atau tidak, ternyata tidak sedikit orang yang hancur luluh keimanannya hanya karena ketidakmampuannya menghadapi musibah dalam hidup. Salah satu penyebabnya karena salah dalam memahami makna musibah dan salah pula dalam menyikapinya. Kesalahan seseorang dalam memaknai dan menyikapi musibah akibatnya bisa sangat fatal terhadap keimanannya.”
Bagi seorang mu’min tentu meyakini bahwa, segala sesuatu hanya akan terjadi di dunia ini karena, “Kun Fayakun” Allah, sehingga segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini terutama yang tidak kita inginkan harusnya menjadi bahan “muhasabah” (introspeksi) atau “tazkirah” (peringatan) apa yang sebenarnya sedang Allah rencanakan untuk kita.
Berbicara masalah musibah, sebenarnya musibah adalah sesuatu yang mutlak akan dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupannya, baik seseorang itu yang kafir maupun mu'min. Jika musibah menimpa orang yang kafir, pasti itu adalah azab. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia), sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. As Sajdah, 32 : 21).
Namun, jika menimpa orang yang mu'min, pasti itu adalah bentuk kasih-sayang Allah SWT. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw pernah menyatakan, "Jika Allah sudah mencintai suatu kaum maka Allah SWT akan memberikan bala, ujian atau cobaan". Ini semakin mempertegas kepada kita bahwa musibah bagi orang-orang yang mu'min itu sebagai bentuk kasih-sayang.
Paling tidak, ada "tiga" kemungkinan yang mendasari terjadinya musibah yang menurut Al Qur'an sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu'min. Pertama, sebagai ujian keimanan bagi orang mu'min. Kasih-sayang Allah kepada hamba-Nya yang mu'min di antaranya ditunjukkan-Nya dengan menurunkan musibah dengan memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya yang mu'min untuk mengikuti ujian dalam proses peningkatan keimanannya. Allah SWT berfirman: "Adakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja oleh Allah untuk menyatakan, "aamannaa" (kami telah beriman) padahal Kami belum lagi memberikan ujian kepada mereka. Sungguh telah Kami uji umat sebelum mereka, dengan ujian itu jelaslah oleh Kami siapa yang benar pengakuan keimanannya itu dan siapa pula yang dusta" (Al Ankabuut, 29 : 2-3).
Hakikatnya ujian itu sendiri sebenarnya adalah sesuatu hal yang sangat positif, yang tidak positif adalah jika seseorang yang telah diberi peluang untuk mengikuti ujian lalu ia tidak memanfaatkan peluang tersebut secara optimal sehingga tidak lulus. Betapa ruginya seseorang jika tidak diberi kesempatan untuk mengikuti ujian. Sebaliknya, alangkah beruntung dan bahagianya seseorang yang telah diberi peluang mengikuti ujian dan berhasil lulus dalam ujiannya.
Disadari atau tidak, selama ini kita mungkin telah banyak melakukan kekeliruan dalam memaknai dan menyikapi musibah yang terjadi. Kadang pandangan kita selama ini dalam memaknai dan menyikapi musibah terlalu cenderung pada nilai duniawi. Kemudian kita menganggap ujian itu sebagai bentuk musibah yang sebenarnya sesuatu yang tidak diharapkan. Sehingga ukuran keshalehan seseorang pun kadang dilihat dari kurangnya musibah dalam hidupnya. Ini pandangan yang keliru terhadap makna musibah yang sebenarnya.
Kedua, boleh jadi musibah sebagai bentuk kasih-sayang Allah SWT kepada orang-orang mu'min "bukan" sebagai ujian keimanan, tetapi justru karena Allah SWT sedang memilihkan hal yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang dicintai-Nya. Namun, karena ketidakmampuan untuk bisa memahami hikmah di balik dari suatu peristiwa, lantas kita akhirnya menganggap peristiwa yang terjadi itu sebagai musibah.
Karena ketidakmungkinan manusia “memastikan” apa yang akan terjadi (QS. Lukman : 34) maka acapkali kita tidak bisa memahami hikmah di balik peristiwa yang sedang terjadi. Terkadang kita baru bisa merasakan hikmahnya setelah sekian lama mengalaminya. Pada saat peristiwa boleh jadi kita menganggapnya sebagai musibah, tapi setelah berlalu beberapa waktu mungkin seminggu, sebulan bahkan mungkin setelah beberapa tahun, barulah kita menyatakan rasa syukur setelah menyadari hikmahnya.
Sebagai contoh, seseorang sudah berniat bahkan telah melakukan berbagai macam persiapan untuk menghadiri suatu acara penting yang tempatnya jauh dari domisilinya di antaranya dengan memesan tiket pesawat. Pada saat pemberangkatan, atas takdir-Nya ternyata ia terlambat hanya beberapa menit. Ungkapan perasaan yang muncul saat itu mungkin ungkapan dalam bentuk cacian, makian atau dan lain sebagainya. Setelah beberapa saat kemudian melalui berita yang bersangkutan mendengar bahwa pesawat yang semula akan ditumpanginya jatuh. Barulah saat itu dia sadar dan bersyukur karena tertinggal pesawat.
Karena ketidakmampuan membaca hikmah dari suatu peristiwa, maka sering terjadi orang yang semestinya bersyukur malah mencaci-maki, yang semestinya tertawa malah menangis. Sebaliknya, dia tertawa pada saat seharusnya dia menangis. Semua ini terjadi oleh sebab ketidakmampuan manusia memastikan apa yang akan terjadi, Allah SWT berfirman: "Tidak ada satu jiwa pun yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi besok"(Luqman, 31 : 34).
Di lain sisi Allah SWT juga mengingatkan, "Boleh jadi kamu sangat tidak menyukai peristiwa yang menimpa diri kamu, padahal itu sangat baik sekali bagimu. Boleh jadi sesuatu itu yang sangat kamu sukai, padahal sesuatu itu yang sangat tidak baik bagi kamu. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui, kalian tidak tahu apa-apa" (Al Baqarah, 2 : 216). Oleh karena ketidakmampuan kita dalam memahami hikmah dari satu peristiwa yang menimpa kehidupan kita, maka kita menganggap sesuatu itu tidak baik padahal ia sangat baik. Sebaliknya, kita menganggap sesuatu itu tidak baik, padahal ia sangat baik bagi kita. Jadi, sangat mungkin sekali bahwa musibah yang menimpa diri kita saat ini sebenarnya bentuk kasih-sayang-Nya, karena Allah sedang memilihkan sesuatu yang terbaik bagi kita dunia dan akhirat.
Ketiga, bisa juga musibah yang menimpa kehidupan seorang mu'min "bukan" sebagai ujian keimanan dan "bukan" pula pilihan Allah yang terbaik, tetapi semata-mata azab dari Allah SWT bagi seorang mu’min masih dalam konteks kasih-sayang-Nya. Karena menurut Allah SWT hamba-Nya yang mu'min itu sudah mulai jauh meninggalkan syari’at-Nya di mana yang bersangkutan baru akan sadar jika diturunkan azab sebagai peringatan kepadanya agar ia segera kembali hidup di jalan yang diridhai-Nya.
Kalau musibah itu merupakan ujian keimanan, maka kita harus bersyukur. Lebih bersyukur lagi kalau musibah itu adalah pilihan Allah yang terbaik, berarti Allah sedang sangat sayang kepada kita, sedang membimbing dan menunjukkan apa yang terbaik bagi kita. Bahkan, kalau pun musibah itu sebagai azab, tetap saja kita harus bersyukur kepada-Nya karena Allah masih mau mengingatkan agar segera bertaubat dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput kita.
Sebelum tulisan ini saya akhiri, saya mengajak sidang pembaca untuk merenung sejenak terhadap sebuah kisah yang layak kita jadikan "ibrah" (pelajaran) bagi kita, di mana betapa luar biasanya buah keimanan dapat mengecilkan arti musibah duniawi. Dikisahkan salah seorang tabi'in bernama Urwah bin Zabir, yang Allah takdirkan salah satu kakinya dari lutut ke bawah sakit hingga membusuk. Tak lama kemudian didatangkan 4 orang Tabib sebagai upaya penyembuhan. Ternyata hasil diagnosa 4 Tabib menyimpulkan bahwa tidak ada cara lain kecuali harus diamputasi kaki yang membusuk tersebut. Jika tidak, maka dikhawatirkan penyakitnya akan menjalar ke seluruh tubuh.
Ketika berita ini disampaikan kepada Urwah, dengan tenang dia mengatakan, kalau memang itu adalah keputusan para Tabib, kenapa tidak segera dilakukan ? Sebelum pelaksanaan operasi, disodorkanlah oleh Tabib minuman kepada Urwah sambil mengatakan, silakan anda minum terlebih dahulu. Ketika Urwah mau meminumnya terciumlah aroma lain, maka dia bertanya, minuman apa ini ? “Arak”, kata Tabib. Maksudnya apa, tanya Urwah. Jawab Tabib: “supaya anda mabuk agar mengurangi sedikit rasa sakit karena sebentar lagi kaki anda akan kami gergaji mulai dari kulit, daging hingga tulang. Dan, tentu saja akan terjadi pendarahan yang luar biasa. Supaya darah tidak terus mengalir, maka sudah kami siapkan "kuali" dengan minyak goreng yang sudah mendidih. Setelah kaki anda dipotong agar jangan terus mengeluarkan darah maka kaki anda itu akan kami masukkan ke dalam kuali agar cepat kering.
Jawab Urwah, “Sungguh sulit diterima akal sehat jika ada seorang mu'min yang beriman kepada Allah lantas dia meminum sesuatu untuk menghilangkan akalnya. Sehingga dia sudah tidak ingat lagi siapa Tuhannya? Betapa saya meragukan keimanan seseorang yang sampai mau meminum khamr sehingga dia tidak sadar bahwa Allah itu ada, bagaimana bisa diyakini keimanan seperti itu. Saya tidak ingin sedikit pun termasuk orang seperti itu, untuk itu buanglah jauh-jauh khamr dari depan mukaku”.
“Lantas apa yang mesti kami lakukan?”, kata Tabib. Urwah berkata: “setelah saya memberi isyarat dengan tangan saya, silakan laksanakan tugas kalian, gergaji kaki saya dan masukkan ke dalam kuali”. Lalu Urwah pun asyik khusyu’ berzikir sampai kemudian dia angkat tangannya sambil terus berzikir memejamkan mata pertanda dia sudah siap untuk digergaji kakinya. Maka digergajilah kaki Urwah dan langsung dimasukkan dalam kuali. Konon, dia sempat pingsan. Setelah siuman, sambil tetap berbaring di tempat tidur, dia meminta kepada orang di sekelilingnya agar potongan kakinya tersebut setelah dimandikan dan dikafani dan sebelum dikuburkan dapat dihadirkan kepadanya.
Dibawakanlah potongan kakinya dan sambil berbaring dia angkat potongan kaki itu sambil mengatakan, Ya Allah, Alhamdulillah, selama ini Engkau telah karuniakan saya dua kaki, kelak kaki ini akan menjadi saksi di akhirat nanti. Ya Allah, Demi Allah, saya tidak pernah membawa dia melangkah ke jalan yang tidak Engkau ridhai. Kini, Engkau ambil yang hakikatnya adalah milik-Mu Ya Allah, innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan saya masih bisa memanfaatkan kaki yang tersisa ini. Lantas potongan kaki pun diberikan sambil ia meminta dikuburkan.
Nyaris tidak ada kesedihan, tapi tiba-tiba Urwah menangis. Orang yang menyaksikan sejak awal itu berkomentar: “kami semula begitu merasa bangga dengan ketegaran anda, lalu kenapa engkau kini menangis, wahai Urwah ?” Beliau menjawab: “Demi Allah, hanya Allah yang Mahatahu, saya bukan menangis karena hilangnya satu kaki saya, yang hakikatnya milik Allah, tapi yang membuat saya menangis hanyalah kekhawatiran, apakah dengan kaki yang hanya tinggal satu ini saya masih bisa beribadah dengan sempurna kepada Allah ?
Allahu Akbar! Luar biasa keimanan Urwah, dunia menjadi kecil di mata orang mukmin seperti Urwah ini. Siang hari dia menjalani operasi amputasi, malamnya salah satu dari tujuh orang anaknya meninggal dunia. Ketika berita duka ini disampaikan, beliau berkata, saya belum bisa bangkit dari tempat tidur ini, karenanya tolong urus jenazahnya, mandikan, kafani dan shalatkan. Sebelum dikuburkan ijinkan saya memegang sejenak jenazah anak saya. Ketika jenazah putranya disodorkan kepadanya, ia pun memegang jenazah anaknya sambil mengusap kepalanya dan bardoa, “Ya Allah, Alhamdulillah, Engkau telah karuniai saya tujuh anak. Mudah-mudahan sebagai ayah mereka sudah saya laksanakan kewajiban mendidik mereka di jalan yang Engkau ridhai. Ya Allah, sekarang Engkau ambil salah seorang di antara mereka, milik-Mu Ya Allah, bukan milikku. Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun, mudah-mudahan Engkau masih memberikan manfaat untuk 6 anak yang masih tersisa. Allahu Akbar, bagi orang mukmin hanya Allah yang “Akbar” dunia dan segala isinya “kecil” di mata seorang yang mencintai Allah di atas cinta kepada selain Allah SWT.
Wallahu a’lam bish-shawab
Red: K.H. Athian Ali M.,MA
Rebublika Online Kamis, 15 Oktober 2009, 12:34 WIB
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Dakwah
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/dakwah/09/10/15/82593-menyikapi-musibah

Sabtu, 16 Oktober 2010

Menjauhi Kekufuran Sosial

REPUBLIKA.CO.ID,"Kefakiran dapat berpotensi pada kekufuran." Demikian di antara pesan moral yang sering kita dengar atau bahkan kita ucapkan. Meskipun diyakini para ahli hadis bahwa kalimat itu tidak termasuk qaul Nabi SAW, ia memiliki substansi pesan yang baik, paling tidak untuk direnungkan.
Kekufuran kini telah mengambil tempat yang semakin membahayakan. Ia merupakan satu dari sekian banyak penyakit sosial yang sering mengganggu kehidupan, merusak kebersamaan, dan bahkan tidak jarang muncul dalam wujud tindak kekerasan. Kekerasan pun pecah di banyak tempat. Secara sosial ataupun material, kekerasan kini telah melewati batas toleransi. Padahal, jika ditelusuri, sumber penyebabnya sangat sederhana.
Potret kesederhanaan yang menjadi sumber kekerasan itu dapat kita lihat dalam sejumlah tragedi sosial, seperti tawuran antarwarga, bentrok antarpemuda, atau saling lempar antarmahasiswa, yang kesemuanya hanya berakar pada persoalan yang tidak seberapa. Tragedi berdarah itu lalu pecah hanya karena masing-masing pihak tidak sanggup menahan diri.
Kekerasan yang akhir-akhir ini banyak terjadi di negeri yang mayoritas Muslim ini, seperti diyakini banyak pakar, salah satunya merupakan akibat langsung dari semakin lebarnya jarak sosial antara yang punya dan yang tak punya. Ketidakadilan ekonomi merupakan sumber semakin rentannya ketahanan psikis yang dalam perspektif pesan di atas dapat berpotensi merebaknya kekufuran.
Karena itu, dalam logika Alquran, kekerasan bisa saja terjadi sebagai bentuk peringatan keras Allah atas ketidakadilan ekonomi yang hingga saat ini belum sanggup menurunkan angka kemiskinan secara signifikan. Masih tingginya angka pengangguran menjadi sumber ketidaksanggupan manusia menerima kenyataan. Ketidakmampuan menghadapi kenyataan ini pula yang pada gilirannya telah menggeser ketulusan untuk bersedia menerima perbedaan.
Padahal, seperti diisyaratkan Nabi SAW, perbedaan adalah rahmat. Perbedaan dalam hal apa pun. Perbedaan pendapat dapat memperkaya wawasan. Sementara itu, perbedaan pendapatan pun dapat menjadi lahan beramal dalam berbagi rasa dengan sesama. Tapi, mengapa kenyataan mengungkap pemandangan sebaliknya. Perbedaan kini justru banyak menuai laknat. Mungkin, kenyataan inilah yang digambarkan Allah dalam Alquran surah Ibrahim (14) ayat 7, "Jika kalian bersyukur, akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu; tapi sebaliknya, jika kalian mengingkari atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan, azab-Ku sangat pedih."
Pernyataan Alquran yang sarat muatan pesan persuasi ini seolah tengah menampar bangsa kita yang akhir-akhir ini sering menuai derita. Pesannya tegas bahwa manusia wajib bersyukur, yang salah satu ekspresinya adalah sikap tulus menerima kenyataan sambil tetap berikhtiar memperbaiki kehidupan.
Jadi, untuk menghindari semakin suburnya kekerasan di negeri ini, perlu diperkuat agenda meringankan beban kekufuran sosial melalui usaha mewujudkan pesan Alquran. "Memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (QS Quraisy: 4).
Republika OnLine » Ensiklopedia Islam » Hikmah
Rabu, 13 Oktober 2010, 09:26 WIB
Red: Budi Raharjo
Rep: Oleh Prof Asep S Muhtadi
http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/10/13/139853-menjauhi-kekufuran-sosial

Rabu, 13 Oktober 2010

Senam Otak

Olahraga otak sama pentingnya dengan olahraga tubuh. dengan olahraga otak akan terbentuk saraf baru yang dapat melindungi terhadap gejala demensia atau kepikunan. Berikut ini beberapa cara yang dapat dilakukan untuk olahraga otak.
1. Membiasakan aktif.
menjadi kidal (aktif tangan kiri) dan juga kanan.
Lakukan tugas dengan tangan non dominan, jika biasanya dominan tangan kanan maka gunakan tangan kiri (kidal) dan sebaliknya. contoh saat menggunakan mouse komputer, menyikat gigi dan dan mengikat tali sepatu dengan arah yang berlawanan. Menurut Franklin Institute jenis latihan ini dapat memperkuat hubungan saraf yang ada dan bahkan membentuk saraf baru.
2. Membaca.
Membaca dapat melenturkan otot-otot otak baik bacaan ringan (seperti komik atau majalah) maupun bacaan untuk informasi, dan menurut studi Dr. Nicolaos Scarmeas pada tahun 2001, membaca dapat membantu membangun 'cadangan kognitif' untuk menunda timbulnya demensia.
3. Bermain Puzzle atau Teka Teki Silang.
Teka Teki Silang, puzzle, sudoku dan jenis puzzle lainnya dapat melatih otak khususnya otak kiri menurut pusat pelatihan kognitif LearningRx.
Tambahkan strategi baru untuk mengefektifkan latihan otak, misalnya memecahkan teta teki silang dengan tema yang tidak biasa.
4. Bermain permainan strategi.
Permainan strategi seperti catur, monopoli atau game komputer lainnya, akan menggunakan otak kanan yang dapat membantu orang untuk lebih berpikir kreatifitas.
5.Ubah Rutinitas.
Menurut Lawrence Katz, Profesor Neurobiologi dari Duke University Medical Center, mengubah rutinitas dengan cara-cara hidup baru dapat mengaktifkan koneksi otak yang sebelumnya tidak aktif.
Latihan yang biasa dilakukan misalnya, mandi dengan mata tertutup atau mengatur ulang kantor atau meja-meja
6. Belajar Bahasa Asing.
dengan belajar bahasa asing akan mengaktifkan bagian otak yang belum digunakan sejak anda mulai berbicara. sebuah study tahun 2007 di York University di Toronto menemukan bahwa penggunaan beberapa bahasa dapat meningkatkan supply darah ke otak untuk menjaga kesehatan koneksi saraf.
7. Menikmati musik.
Selain mendengarkan musik, belajar juga untuk memainkan instrumen musik. Para ahli juga merekomendasikan untuk mengaktifkan dua indra sekaligus, seperti mendengarkan musik dan mencium bunga.
8. Latihan phisik.
Latihan phisik juga dapat meningkatkan kesehatan otak, karena dapat meningkatkan aliran darah ke otak. Menurut Stanford Center on Longevity and the Max Planck Institute for Human Development, Latihan phisik dapat meningkatkan perhatian, penalaran dan memori
Oleh Eny Gusita (12 Oktober jam 21:00)
http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=161152143913826&id=100000571246674&il=0#!/?page=1&sk=messages&tid=1664216883801

Suku Baduy di Banten Gelar Ritual untuk Hentikan Lumpur Lapindo ke Sidoarjo

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA--Kantor gubernur Jawa Timur mendapat tamu istimewa. Sebanyak 13 orang suku Baduy, Banten mendatangi kantor gubernuran Selasa (10/12).
Mereka bermaksud minta izin untuk mengadakan acara ritual guna menghentikan semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jatim. Mereka jjuga mengaku diperintahkan oleh tetua adat suku Baduy dan juga telah mendapat restu dari Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah.
Warga Baduy yang menumpang bus Pemprov Banten itu sempat ditemui Wagub Jatim, Saifullah Yusuf, dan beberapa pejabat lainnya. "Silakan kalau mau berdoa untuk menghentikan lumpur. Mudah-mudahan meerka berhasil," kata Saifullah.
Iman Sholahudin yang juga pemimpin suku mengatakan warga suku Baduy luar ingin membantu untuk menghentikan luapan lumpur Lapindo. "Kami ingin berusaha menghentikan semburan Lapindo yang sudah menenggelamkan ratusan hektare area permukiman," kata Iman Sholahudin menirukan kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuidaman Kabupaten Lebak Banten.
Menurut pimpinan rombongan, Daenah, yang juga kepala desa Kanekes, Leuwi Damar, Lebak, Banten, mereka juga pernah melakukan ritual untuk membantu warga atau suku lain. Mereka pernah melakukan ritual untuk menetralisir letusan Gunung Galunggung dan Merapi.
Sebagaimana lazimnya suku Baduy --dengan pakaian serbahitam, tanpa memakai alas kaki, dan ikat kepala-- mereka turun menuju tanggul lumpur Lapindo. Di situlah mereka membaca doa satu per satu dengan posisi menghadap timur atau ke arah pusat semburan lumpur.
Lalu satu per satu orang Baduy memanjatkan doa dengan cara melepas baju sembari duduk di atas batuan kecil sambil makan dedaunan. Setiap orang Baduy memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk berdoa.
Republika OnLine Selasa, 12 Oktober 2010, 21:55 WIB
http://www.republika.co.id/berita/breaking-news/nasional/10/10/12/139818-suku-baduy-gelar-ritual-untuk-hentikan-lumpur-lapindo