Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Januari 2012

BUDAYA MATERI

Apa makna benda-benda bagi manusia? Baik dari sudut pandang masyarakat tradisional maupun masyarakat modern pertanyaan ini bisa dijawab dengan dua hal, yang merupakan pokok kajian budaya materi (budaya pemanfaatan benda-benda oleh manusia, bagaimana manusia berhubungan dengan benda). pertama, benda-benda bisa diletakkan dalam perspektif fungsional saja. Dalam perspektif ini sebuah piring berfungsi sebagai wadah makanan, senjata berfungsi sebagai alat berburu dan mempertahankan diri terhadap serangan musuh, sepatu berfungsi sebagai pelindung kaki dsb. Fenomena peradagangan/ekonomi juga masih termasuk dalam perspektif ini. Yang kedua, benda-benda bisa juga diletakkan dalam perspektifnya sebagai totem, yaitu diasosiakan secara simbolik dengan sesuatu yang lain. Di sini benda-benda berperan sebagai pembawa maknamakna sosial tertentu. Cincin misalnya, yang tak terlalu penting dalam perspektif fungsional, dalam perspektif totem bisa bermakna kecantikan, kekayaan, atau ikatan kesetiaan dsb. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa benda-benda, seperti diteorisikan Mary Douglas (antropolog) dan Baron Isherwood (ekonom) (1979), mampu mengkongkretkan makna-makna sosial yang abstrak seperti kesetiaan, kepatuhan, dsb. Menurut Douglas dan Isherwood konsumsi benda-benda yang terjadi dalam semua masyarakat adalah juga di luar perdagangan, ia selalu merupakan sebuah fenomena kebudayaan, selalu berkaitan dengan nilai-nilai, makna-makna, dan komunikasi. Benda-benda bukan hanya dipakai untuk melakukan sesuatu, melainkan juga punya makna dan bertindak sebagai tanda makna dalam hubungan sosial, selalu memamerkan seperangkat nilai tertentu. Hal ini juga berarti bahwa dalam sirkulasi benda-benda telah terjadi sebuah pertukaran simbolik. Douglas dan Isherwood secara khusus menyelidiki upacara-upacara, baik dalam masyarakat tradisional maupun modern, yang menurut mereka berfungsi sebagai tempat untuk penciptaan makna benda-benda dengan cara memperlihatkan kegunannya dalam upacara. Karena upacara-upacara merupakan acuan klasifikasi seseorang dalam masyarakat, maka benda-benda secara langsung berperan sebagai sumber identitas sosial dan pembawa makna sosial. Marshal Sahlins (1976) mengembangkan konsep totemisme ini untuk menyelidiki konsumsi bendab-enda dalam masyarakat modern. Menurutnya, jika masyarakat tradisional menggunakana benda-benda 'alamiah' (kayu, batu, tulang dsb.) sebagai totem, maka totem masyarakat modern adalah benda-benda buatan pabrik. Ia menunjukkan bagaimana sistem pakaian masyarakat modern bukan sekedar seperangkat objek materi untuk membuat hangat tubuh dsb., tetapi sebagai kode simbolik untuk mengkomunikasikan keanggotaan dalam suatu kelompok sosial (priawanita, kelas ataskelas bawah dsb.). Lewat pakaian masyarakat modern mengkomunikasikan keanggunan perempuan, keperkasaan lakilaki, dan kehalusan kelas bangsawan. McCracken (1988) juga mengidentifikasi pemanfaatan benda-benda konsumen dalam ritual-ritual masyarakat kontemporer. Ia mengajukan beberapa ritual masyarakat kontemporer paling penting. Pertama, 'upacara pemberkatan', yang meliputi pengumpulan, pembersihan, perbandingan, dan pertunjukkan benda-benda. Dekorasi kamar tidur dengan poster-poster. Upacara ini memungkinkan pemiliknya mengklaim hak atas makna sebuah objek di luar batas kepemilikan biasa. Ini merupakan cara mempersonalisasikan objek, cara memindahkan makna dari dunia individu kepada benda yang baru diperoleh. Ia mencontohkan upacara hadiah, misalnya pada hari ulang tahun, hari natal, atau hari kasih sayang. Pemilihan dan pemberian benda-benda konsumen oeh seseorang dan diberikan kepada orang lain merupakan sebuah perpindahan makna. Seringkali sebuah benda dipilih sebagai hadiah karena benda tersebut memiliki makna kepemilikan yang penuh yang ingin diberikan kepada orang lain. Misalnya, seorang perempuan yang menerima sebuah pakaian diundang untuk mendefinisikan dirinya menurut makna gayanya; pemberi bunga atau coklat mungkin meminta penerimanya untuk menunjukkan sifat kelembutan atau sifat yang manis. Dari perspketif ini, pemberian benda-benda pada suatu upacara (hari ulang tahu, hari raya dsb.) dapat dipandang sebagai sarana yang paling tepat dalam komunikasi antarpribadi atau pengaruh antarpribadi. Budaya materi, dalam pandangan Marx, adalah objektifikasi kesadaran sosial. Ini berawal dari distingsi Marx antara produksi yang bermanfaat langsung bagi pembuatnya dengan produksi yang semata-mata untuk kepentingan pasar. Proses yang terakhir inilah yang disebut Marx benda sebagai komoditas. Meskipun tak mengalami bentuk-bentuk budaya materi modern, ia kemudian sampai pada konsep fetishisme komoditas yang menggambarkan penyembunyian cerita tentang siapa dan bagaimana sebuah objek dibuat. Dalam fetishisme modern, kegunaan benda-benda didistorsi secara sistematis oleh pencarian keuntungan kapitalis. Dan jelas bahwa kebutuhan untuk mencari untung ini telah secara dramatis melahirkan benda-benda baru yang dijual hanya untuk memanipulasi konsumen. Theodore W. Adorno (1974), penginterpretasi Marx dari Kelompok Frankfurt yang dihormati, mengintrodusir knsep nilai guna sekunder. Konsep ini menunjukkan fenomen konsumsi dalam masyarakat inddustri dimana melalui kemasan, promosi dan iklan, benda-benda dicocokkan dengan topeng-topeng yang didesain secara ekspresif untuk memanipulasi hubungan yang mungkin terjadi antara benda-benda pada satu sisi serta keinginginan, kebutuhan dan emosi manusia di sisi lain. Nilai guna sekunder berjalan begitu dominasi nilai tukar telah diatur untuk menghapus ingatan mengenai nilai guna murni benda-benda. Ini adalah dasar bagi estetika komoditas, dimana komoditas berperan bebas dalam asosiasi dan ilusi budaya yang sangat luas. Iklan secara khusus mampu mengeksploitasi kebebasan ini untuk menampilkan citra romantis, eksotik, kepuaasan, atau kehidupan yang baik dengan memperkenalkan barang-barang konsumen seperti sabun, mesin cuci, mobildan minuman beralkohol. Ini persis dengan yang dikatakan Douglas dan Isherwood tentang kemampuan benda-benda untuk mengkonkretkan maknamakna sosial yang abstrak, tetapi dalam hal ini Adorno mampu menunjukkan peran media massa modern dalam proses pengkongkretan ini. Sejalan dengan langkah Adorno, Celia Lury (1996) menunjukkan bahwa kelemahan studi budaya materi seperti yang dilakukan Douglas dan Isherwood adalah bahwa mereka hanya memperlakukan benda-benda sebagai media nonverbal untuk kemampuan kreatif manusia. Mereka gagal untuk secara meyakinkan mengkaji isuisu mengenai kekuatan dan kontrol simbolik. Arjun Appadurai (1986) mempercanggih metodologi Douglas dan Isherwood dengan secara langsung memusatkan kajiannya pada 'kehidupan sosial benda-benda'. Ia menyatakan bahwa benda-benda bukan hanya bersifat sosial dan budaya semata, melainkan benda-benda itu mempunyai kehidupan: bobot dan otoritas benda dapat dipaksakan dalam kehidupan manusia, karena memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keyakinan, memberi kewajiban, penampilan, dan kesenangan. Walaupun dari sudut teoritis manusia sebagai pelaku menandai benda-benda dengan sebuah arti, namun dari sudut metodologis pergerakan bendalah yang meghiasi konteks sosial dan kemanusiaan mereka. Secara agak mengejutkan, benda-benda dikajinya secara naratif, dituturkan sebagai kisah dengan sarana 'sejarah kehidupannya'. Pendeknya ia menelusuri narasi benda-benda dan jalur lintasannya: darimana benda berasal, siapa pembuatnya, apa gunanya, berapa 'umur' atau 'periode kehidupan' benda tersebut, apa ciriciri budaya untuknya, bagiamana kegunaan benda berubah sesuai umurnya dsb. Contoh yang bagus untuk pendekatan model Appadurai ini adalah studi Dick Hebdige tentang "siklus skuter Itali" (1988). Hebdige menyelediki apa yang disebutnya dengan 'kepentingan budaya' sebuah objek. Kepentingan ini digali dengan menelusuri perubahan arah yang dialmpaui dalam sirkuasi benda-benda. Strategi studinya adalah dengan mengikuti fluktuasi makna sosial skuter dan kemudian menarasikannya; Hebdige menunjukkan. bahwa skuter yang mula diasosiakan dengan status sosial yang rendah karena bentuknya yang mirip mainan anak-anak , kemudian melonjak menjadi objek yang dipuja karena diasosiakan dengan kenecisan dan modern pada awal '60an, dan kemudian status skuter yang sekarang adalah sebagai benda nostalgia. Pada awal peluncurannya, skuter didefinisikan sebagai 'perempuan', ia dianggap sebagai kendaraan lakilaki. Dan sebagai perempuan, skuter dihidupkan dalam harapan mengenai 'perkawinan'. Pabrik-pabrik motor di Inggris, yang terkenal dengan 'kelelakiannya' kemudian dipaksa memproduksi skuter, sebuah kendaran yang lebih 'feminin' dan 'ramping'. Pada awal kemunculannya di Inggris, dengan dalih "referensi maskulinitas dan keperkasaan", skuter secara moral bahkan dicurigai sebagai anti etos kerja keras. Tetapi kemudian 'perkawinan' antara sepeda motor dan skuter berlangsung juga. Hebdige mencontohkan bahwa pada tahun '50-an skuter adalah ancaman terbesar bagi industri sepeda motor Inggris; dalam sebuah pameran 3 sepeda motor harus bersaing dengan 50 skuter. Skuter kemudian menjalani hidup baru setelah 'percerainnya' dengan sepeda motor. "Keitalian" sebuah skuter menjadi penting, dan kefisienan desainnya menjadi simbol objek masa depan. Keriangan kehidupan baru skuter ini kemudian berubah sejak pertemuannya dengan klub-klub pecinta skuter dan balap skuter. Pertemuan ini ini membawa skuter kepada identitas sebuah subkultur tertentu. Dan di masa-masa akhir hidupnya, dengan hadirnya sekolah-sekolah desain produk modern, kesempurnaan desain skuter didramatisir dan menjadi ajang estetikasi kehidupan sehari-hari. Kejayaan skuter akhirnya benar-benar runtuh karena munculnya sepeda motor-sepeda motor kecil buatan Jepang, juga karena kewajiban memakai helm yang membuat naik skuter tak setrendi pada masa-masa sebelumnya.

Selasa, 31 Agustus 2010

Tadarus Budaya Marakkan Ramadan

GRESIK - Berbagai cara dilakukan untuk mengisi bulan suci Ramadan. Yang dilakukan komunitas budaya Cager bisa jadi berbeda dan jarang ditemui. Komunitas tersebut menggelar sebuah pentas seni bertajuk Tadarus Budaya.
Banyak tampilan penuh makna dalam pentas untuk memperingati bulan suci Ramadan di gedung Dispendik, Jl Usman Sadar Gresik, Minggu malam (29/8) itu. Tampilan mereka diiringi musik lumba, seni musik yang didominasi tabuh-tabuhan terbang (rebana).
Menurut pembina Cager yaitu Lenon Mahalli, musik tersebut dipilih untuk melestarikannya. Dia mengingatkan, seni rebana pernah jaya di Gresik. Terutama di wilayah Bungah. "Dulu Bungah adalah sentra produksi terbang. Di sana pula muncul para ahli pemain terbang. Tapi, sekarang semua sudah punah," kata Lenon.
Dalam penampilan tersebut, Cager menyajikan musikalisasi puisi. Sebagian besar puisi yang dibacakan berisi keprihatinan atas pergeseran puisi sebagai seni yang belakangan jadi komoditas bisnis. "Dulu, pada zaman Wali Songo, seni adalah media untuk mendakwahkan ajaran Islam. Tapi, kini jarang sekali seni menjadi sarana untuk kegiatan itu," katanya.
Pentas Tadarus Budaya kemarin seakan menjadi pengobat dahaga para pecinta seni di wilayah Gresik. Maklum, jarang sekali pentas seni di Gresik digelar. (ris/c13/ruk)
Pos_Metropolis [ Selasa, 31 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=152948

Minggu, 22 Agustus 2010

Qory Sandioriva Bertekad Tampil Optimal dalam Malam Puncak Miss Universe 2010

LAS VEGAS - Kendati tidak termasuk kontestan yang diunggulkan, Putri Indonesia 2009 Qory Sandioriva bertekad tampil optimal dalam malam puncak kontes kecantikan Miss Universe 2010.
Acara grand final kontes tahunan itu bakal berlangsung di Mandala Bay Resort & Casino, Las Vegas, Senin malam (23/8) waktu AS atau Selasa siang WIB (24/8). Tahun ini, 83 kontestan dari berbagai penjuru dunia bakal berkompetisi.
Menjelang acara puncak, Qory mendapat suntikan semangat dari beberapa tamu yang khusus datang untuk mendukung secara langsung. Hingga kemarin (21/8), yang sudah berada di Las Vegas adalah Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia (YPI) Wardiman Djojonegoro dan Wakil Ketua Pendidikan YPI Kusumadewi Sutanto. Ibunda Qory, Fariawati, dipastikan juga hadir menyaksikan dara 19 tahun itu berlaga.
''Rencananya, ada pula staf Konjen RI di sini yang datang pada acara final. Jumlahnya sekitar delapan orang,'' tutur Kusumadewi saat dihubungi Jawa Pos tadi malam.
Rombongan Indonesia tersebut memang belum bertemu langsung dengan Qory yang masih menjalani karantina. Tapi, Kusumadewi memastikan bahwa gadis dengan tinggi badan 172 cm dan bobot 56 kg itu sudah sangat siap untuk memberikan penampilan terbaik. Delapan tokoh akan menjadi juri dalam final Miss Universe 2010.
''Dengan pembekalan selama hampir setahun ini, Qory secara fisik dan mental sudah siap maupun maksimal menghadapi final,'' tegas Kusumadewi.
Sebelum final, seluruh kontestan menjalani beberapa tahap penilaian. Salah satunya adalah babak presentation show yang dihelat pada Kamis malam (19/8) waktu setempat atau Jumat siang WIB (20/8).
Pada sesi itu, Qory naik ke atas panggung dengan dua tampilan. Yakni, mengenakan swimsuit model one piece, lalu gaun malam berbahan batik Cirebon motif Mega Mendung rancangan Lenny Agustin.
Gaun Qory juga dipermanis dengan aplikasi monte berwarna perak kebiruan, biru muda, serta biru tua seberat sekitar 3 kilogram. Semua aplikasi tersebut dipasang dengan pengerjaan tangan. Gaun itu juga akan dipakai Qory pada babak final. ''Tampaknya, Qory agak kurusan. Saya dengar gaun itu agak longgar dia pakai. Nanti kami bantu benahi supaya pas di badannya lagi,'' ujar Kusumadewi.
Namun, dia berjanji, yang pertama dilakukan saat bertemu Qory adalah langsung memeluk dan mencium mahasiswi Sastra Prancis Universitas Indonesia (UI) tersebut. Dia menyebut itu sebagai ucapan terima kasih karena Qory sudah membawa nama bangsa di kancah internasional. ''Setelah itu, akan saya tanya keadaan dia. Apa masih ada yang dibutuhkan. Saya juga akan memberinya semangat agar bisa tampil prima nanti,'' ucap Kusumadewi.
Pemenang kontes tahun ini akan menggantikan tugas Miss Universe 2009 Stefania Fernandez dari Venezuela. Dengan keikutsertaan Qory kali ini, sudah sembilan kali YPI mengirimkan wakil ke perhelatan Miss Universe. Prestasi terbaik yang pernah dicatat adalah ketika Putri Indonesia 2004 Artika Sari Devi lolos ke babak 15 besar Miss Universe 2005. (ayi/c5/dwi)
Jawa Pos [ Minggu, 22 Agustus 2010 ]
http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=showpage&kat=3

Minggu, 07 Maret 2010

Cager, Kelompok Seni Gresik Yang Eksis

Sunday, 07 March 2010 04:38

Meskipun Gresik dikenal sebagai kota wali, dan para wali dikenal banyak melakukan pendekatan budaya dan kesenian dalam menyebarkan ajaran Islam, namun dinamika seni budaya di Gresik bisa dibilang masih jauh dari harapan. Berbagai persoalan seperti minimnya penghobi seni (tradisi) sampai regulasi pemerintah yang kurang berpihak menyebabkan kehidupan seni budaya Gresik kurang berkembang.

Namun, agaknya eksistensi satu kelompok ini patut diacungi jembol. Kelompok Cager, masih eksis menghidupkan gairah seni budaya, terutama seni teater, musik, dan puisi di Gresik.

Sebuah kelompok yang berawal dari kegiatan diskusi permasalahan yang krusial dan intens sejak tahun 1981-1983 secara keliling dari rumah ke rumah anggota. Selanjutnya membentuk diri sebagai Kelompok CAGER dan memilih bertindak melalui jalur kesenian dan kebudayaan sejak 1987 sampai sekarang. Melalui divisi Sastra, divisi Teater dan divisi Musik, melakukan gerakan-gerakan kesenian dan kebudayaan.

Mengikuti setiap dinamika masyarakat Gresik khususnya dan dinamika Indonesia pada umumnya, menangkapnya sebagai bagian dari diri, lingkungan lalu berproses dan berkarya, adalah salah satu ciri khasnya. Selanjutnya membawanya berkeliling melewati Surabaya, Lamongan, Solo, dan Jakarta untuk ditawarkan sebagai hasil temuan hidup, buah pikiran yang menghasilkan kegiatan budaya yang lain. Sekaligus sebagai tawaran tindakan bagi elemen masyarakat yang lain.

Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Kelompok CAGER bukan saja semata-mata beredar di wilayah kesenian, namun juga berbuat nyata dengan menyentuh bidang seni melalui pendidikan. Melalui workshop-workshop musik, teater dan sastra, baik yang dilakukan atas dasar inisiatif intern maupun melalui kerjasama dengan lembaga pendidikan. Mulai dari mengenalkan teater di tataran ekstrakurikuler maupun intrakurikuler di tingkat SD, SMP, SMU. Dan di divisi sastra bersama Departemen P & K telah melakukan Workshop tentang Bagaimana Memahami Sastra bersama guru-guru Bahasa Indonesia tingkat SMP dan SMU se-Gresik.