Sabtu, 17 Oktober 2015

Metakognisi dalam Pembelajaran


Metakognisi dalam pembelajaran merupakan konsep penting dalam teori kognisi. Metakognisi tidak sama dengan kognisi, misalnya keterampilan membaca suatu teks berbeda dengan keterampilan pemahaman  terhadap teks tersebut. Metakognisi mempunyai kelebihan dimana seseorang mencoba merenungkan cara berpikir atau merenungkan proses kognitif yang dilakukannya.
Secara sederhana metakognisi didefinsikan sebagai “memikirkan  kembali  apa yang telah dipikirkan”, bahkan ada ahli yang menghubungkan metakognisi dengan fungsi kontrol atau pemrosesan informasi. Walaupun pendefinisiannya berbeda, namun secara umum  metakognisi merupakan kesadaran atau pengetahuan seseorang terhadap proses dan hasil berpikirnya (kognisinya) serta kemampuannya dalam mengontrol dan mengevaluasi proses kognitif tersebut.
Pengertian Metakognisi
Istilah Metakognisi dimunculkan oleh beberapa ahli psikologi sebagai hasil penelitian terhadap kondisi, mengapa ada orang yang belajar dan mengingat lebih dari yang lainnya?  Secara harfiah metakognisi terdiri dari awalan  meta yang artinya “sesudah” dan  kata kognisi. Metakognisi dapat diartikan sebagai kognisi tentang kognisi, pengetahuan tentang pengetahuan atau berpikir tentang berpikir. Menurut Anderson dan Krathwohl (2001), penambahan awalan “meta” pada kata kognisi untuk merefleksikan ide bahwa metakognisi adalah “tentang” atau “di atas” atau “sesudah” kognisi. Di samping itu, pengertian metakognisi hampir sama dengan pengertian perefleksian terhadap apa yang dipikirkannya. (deSoete, 2001). Kata reflektif berasal dari kata ”to reflect” artinya ”to think about”.
Istilah metakognisi yang diperkenalkan Flavell (Yong & Kiong, 2006), mendefinisikan aspek pertama dari metakognisi sebagai pengetahuan seseorang terhadap proses hasil kognitifnya atau segala sesuatu yang berhubungan dengannya, kemudian aspek kedua dari metakognisi didefinisikan sebagai pemonitoran dan pengaturan  diri terhadap aktivitas kognitif sendiri.
Schoenfeld (1992) mendefinisikan metakognisi sebagai pemikiran tentang pemikiran sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek penting  yaitu: pengetahuan tentang proses berpikir sendiri, pengontrolan atau pengaturan diri, serta keyakinan dan intuisi. Interaksi ini sangat penting karena pengetahuan kita tentang proses kognisi kita dapat membantu kita mengatur hal-hal di sekitar kita  dan menyeleksi strategi-strategi untuk meningkatkan kemampuan kognitif kita selanjutnya.
Metakognisi mencakup kemampuan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan berikut:
o    Apa yang saya tahu tentang hal ini, topik masalah subjek?
o    Apakah saya tahu apa yang harus saya ketahui?
o    Apakah saya tahu di mana saya bisa mendapatkan beberapa informasi, pengetahuan?
o    Berapa banyak waktu yang saya perlukan untuk belajar ini?
o    Apa saja strategi dan taktik yang bisa saya gunakan untuk belajar ini?
o    Apakah aku mengerti apa yang saya dengar, baca atau lihat?
o    Bagaimana saya tahu jika saya sedang belajar pada tingkatan yang sesuai?
o    Bagaimana saya bisa melihat jika saya membuat satu kesalahan?
o    Bagaimana saya harus merevisi rencana saya jika tidak sesuai dengan harapan/kepuasan saya?
Pustaka:
o    Pengembangan Metakognisi dalam pembelajaran Matematika oleh : Dr. Theresia Laurens, Makalah Seminar Nasional Matematika Juli 2011
o    Citation: Huitt, W. (1997). Metakognisi. Interaktif Psikologi Pendidikan .
o    http://www.edpsycinteractive.org/topics /metacogn.html